Kopi Pagi: Petani Pahlawan Negeri

Kamis 24 Sep 2026, 07:00 WIB
Ilustrasi Kopi Pagi (Sumber: Poskota)
Ilustrasi Kopi Pagi (Sumber: Poskota)

Kita sering bicara soal peningkatan gizi, mengatasi stunting dan produk pangan berkualitas, tapi kadang di saat yang sama lalai memperhatikan nasib "gizi" mereka yang memproduksi pangan.

Padahal kita tahu, petani merupakan garda terdepan dalam menjaga ketersediaan pangan. Mereka sejatinya pahlawan negeri, karena tiada lelah dan henti memproduksi dan menyediakan makanan pokok bagi ratusan juta penduduk negeri ini, tiap hari.

Pemerintah pusat hendaknya terus memperkuat kesejahteraan petani sebagai bagian upaya mewujudkan swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional. Cukup ironi, jika kita swasembada pangan, sementara para petani yang memproduksi pangan, hidupnya masih merana.

Baca Juga: Kopi Pagi: Koperasi vs Oligarki Ekonomi

Perlu penataan ulang produk pertanian, dan kepedulian serta keberpihakan kepada kaum tani, petani penggarap dan buruh tani.

Kita tidak ingin sektor penghasil makanan pokok bangsa kita ini terabaikan keberadaannya, apalagi sampai ditinggalkan karena persoalan kesejahteraan yang tidak signifikan, tidak linier dengan peningkatan produksi hingga swasembada pangan.

Perlu mengevaluasi kebijakan pertanian yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan, tetapi memperkuat kepemilikan lahan,kapasitas petani dan kesejahteraan keluarganya.

Terobosan perlu dilakukan. Kebijakan riil yang mendesak diperlukan, seperti menjaga harga tidak jatuh di saat musim panen padi, cabai, bawang, sayur dan buah buahan, adalah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. Artinya harus dimulai sekarang juga.

Petani Jepang dan Thailand misalnya  sangat diproteksi dalam mengembangkan usahanya. Tidak saja di bidang pertanian, juga usaha sampingan. Dengan begitu petani mendapat tambahan penghasilan di saat musim tanam untuk membiayai keluarganya. 

Tak kalah pentingnya melindungi petani dari fluktuasi harga, praktik ekonomi biaya tinggi, dan gagal panen, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Kita tak ingin menjadi petani karena terpaksa untuk menyambung hidup akibat tiadanya pekerjaan lain. Yang muda pergi ke kota, terjadilah urbanisasi besar – besaran. Muncul problema baru. Di desa, tanpa regenerasi petani, di kota menumpuk angkatan kerja.

Peduli regenerasi petani pun harus dilakukan dengan mengedukasi bahwa petani adalah profesi bergensi dan panggilan negeri.


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Bersahabat dengan Alam

News Update