“Di era era sekarang, negeri kita makin membutuhkan orang-orang yang tangguh guna menghadapi tantangan yang semakin beragam dan kompleks. Dibutuhkan upaya secara sungguh-sungguh untuk membangun kekuatan karena kesadaran adanya kerentanan yang masih membelenggu," kata Harmoko.
Tidak terbantahkan tantangan ke depan kian berat dan beragam, tak hanya di bidang ekonomi, juga politik dan sosial kemasyarakatan. Ibarat mendaki gunung, di awal cukup landai, begitu setengah perjalanan bukan hanya kian terjal, tetapi semakin sulit meraih pijakan menuju puncak sukses pendakian.
Banyak faktor penyebabnya, menuju akhir perjalanan lebih sulit ketimbang di awal perjalanan, satu di antaranya energi yang sudah terkuras dalam menapaki setengah perjalanan. Belum lagi perbekalan yang kian menipis,ditambah cuaca sekitar yang kian berkabut sehingga mengaburkan pemandangan.
Dengan begitu dibutuhkan energi yang lebih ekstra guna mencapai puncak, sebagai akhir perjalanan.
Baca Juga: Kopi Pagi: Bersahabat dengan Alam
Dalam konteks membangun bangsa dan negara, kian dibutuhkan kekuatan besar, tak hanya anggaran serta tata kelola kelembagaan terkait, sumber daya alamnya, dan kualitas SDM sebagai pendaki tangguh, dibarengi kemampuan intelektual, mental, dan moral.
Menyiapkan keempat hal dimaksud, anggaran, tata kelola, SDA, dan SDM tangguh adalah tantangan saat sekarang menuju masa depan.
Kita meyakini di balik kesulitan terdapat kemudahan, di balik kegagalan terdapat kesuksesan dan di balik tantangan terdapat peluang, di balik kerentanan, sejatinya terdapat kekuatan. Tak ubahnya di balik hal negatif, terdapat yang positif di balik keburukan terdapat kebaikan.
Yang diperlukan adalah kemampuan kita menangkap dan mencermati tantangan, kemudian mencarikan jalan keluarnya sehingga yang sulit menjadi mudah, gagal menjadi sukses. Menjadikan tantangan sebagai peluang, terlebih mengubah kerentanan menjadi kekuatan maha dahsyat.
Baca Juga: Kopi Pagi: Menelisik Rangkap Jabatan Politik
Itulah sebabnya orang bijak mengajarkan bahwa perbedaan antara tantangan dan peluang, kerentanan dan kekuatan terletak pada bagaimana kita menyikapi. Bagaimana kita memandangnya dan munculnya keyakinan diri bahwa dalam kehidupan akan selalu ada kesulitan dalam setiap kesempatan dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan.
Di balik kerentanan tersembunyi kekuatan, begitu juga di balik kekuatan tersembunyi kelemahan.
Jumlah penduduk Indonesia saat ini yang lebih dari 290 juta jiwa akan menjadi beban, menjadi rentan bagi kemajuan bangsa dan negara, jika tidak memiliki kemampuan, tidak tangguh dalam artian cerdas, berkualitas dan berintegritas.
Namun, untuk menjadi kekuatan terbesar, dibutuhkan kecerdasan intelektual, moral dan spiritual sebagai bangsa Indonesia.
Kekayaan sumber daya alam kita luar biasa sebagai kekuatan untuk memajukan bangsa dan negara, menyejahterakan rakyatnya sepanjang masa hingga anak, cucu, hingga cicit kita kita kelak, jika dikelola secara baik dan benar, adil dan beradab. Tetapi akan musnah hanya dalam satu masa pada orang-orang yang serakah, mengeksploitasi secara instan dan serampangan, semena-mena demi kepentingan sesaat, keuntungan semata, tanpa merawat, menjaga dan melestarikannya.
Anggaran jumbo merupakan kekuatan untuk menggerakkan pembangunan, tetapi bisa menimbulkan kerentanan, jika tidak digunakan secara baik dan benar, terlebih dikorupsi.
Baca Juga: Kopi Pagi: Mengisi Kemerdekaan Tiada Akhir
Rakyat tentu sangat mengapresiasi tata kelola sumber daya alam yang dikembalikan semata demi kesejahteraan rakyat, bukan memperkuat kepentingan pejabat. Upaya meningkatkan kualitas SDM melalui jalur pendidikan, kesehatan dan peningkatan gizi rakyat.
Meski begitu berbagai kesulitan masih membelit, tantangan menghadang, beragam kerentanan tidak terbantahkan dalam tata kelola kelembagaan sebagaimana diharapkan.
Lantas bagaimana mengubah tantangan menjadi peluang? Mengubah kerentanan menjadi kekuatan? Jawabnya cukup beragam. Tetapi yang utama adalah bagaimana kita menyikapi seperti dikatakan banyak para ahli.
Pertama, adalah memahami tantangan dan kerentaan. Kita perlu berpikir positif bahwa tantangan bukanlah penghambat, tetapi tahapan menuju keberhasilan, maka harus dihadapi.
Baca Juga: Kopi Pagi: Menuju Adil dan Makmur (3)
Kerentanan menyadarkan perlunya membangun kekuatan secara sungguh-sungguh. Agama apa pun mengajarkan agar kita senantiasa bersungguh-sungguh dalam ucapan, sikap dan perbuatan, termasuk ketika berusaha atau berikhtiar mencapai tujuan.
Patut diingat, di balik kerentanan, tersembunyi kekuatan besar. Menyadari adanya kerentanan untuk mengubahnya menjadi kekuatan.
Kedua, adalah percaya diri bahwa tantangan dan kerentanan itu bisa dihadapi, dengan kemampuan yang kita miliki. Keyakinan menjadi penting agar sebesar apa pun masalah yang kita hadapi dapat ditaklukkan.
Ketiga, adalah urai dari hal kecil. Mulai mengurai dari hal yang paling sederhana. Ibarat mendaki gunung, kita tapaki dari yang paling bawah, baru menuju puncak.
Jika terpeleset atau jatuh dalam pendakian bukanlah kegagalan. Kita mesti bangkit, berpikir sejenak mencari setapak jalan dan segera bertindak, mendaki lagi.
Di era era sekarang, negeri kita makin membutuhkan orang-orang yang tangguh guna menghadapi tantangan yang semakin beragam dan kompleks. Dibutuhkan upaya secara sungguh-sungguh untuk membangun kekuatan karena kesadaran adanya kerentanan yang membelenggu.
Tak berlebihan sekiranya dibutuhkan pemimpin yang mampu bekerja keras, kerja cepat, dan gesit merespons keadaan, seperti dikatakan Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” ini.
