Di balik kerentanan tersembunyi kekuatan, begitu juga di balik kekuatan tersembunyi kelemahan.
Jumlah penduduk Indonesia saat ini yang lebih dari 290 juta jiwa akan menjadi beban, menjadi rentan bagi kemajuan bangsa dan negara, jika tidak memiliki kemampuan, tidak tangguh dalam artian cerdas, berkualitas dan berintegritas.
Namun, untuk menjadi kekuatan terbesar, dibutuhkan kecerdasan intelektual, moral dan spiritual sebagai bangsa Indonesia.
Kekayaan sumber daya alam kita luar biasa sebagai kekuatan untuk memajukan bangsa dan negara, menyejahterakan rakyatnya sepanjang masa hingga anak, cucu, hingga cicit kita kita kelak, jika dikelola secara baik dan benar, adil dan beradab. Tetapi akan musnah hanya dalam satu masa pada orang-orang yang serakah, mengeksploitasi secara instan dan serampangan, semena-mena demi kepentingan sesaat, keuntungan semata, tanpa merawat, menjaga dan melestarikannya.
Anggaran jumbo merupakan kekuatan untuk menggerakkan pembangunan, tetapi bisa menimbulkan kerentanan, jika tidak digunakan secara baik dan benar, terlebih dikorupsi.
Baca Juga: Kopi Pagi: Mengisi Kemerdekaan Tiada Akhir
Rakyat tentu sangat mengapresiasi tata kelola sumber daya alam yang dikembalikan semata demi kesejahteraan rakyat, bukan memperkuat kepentingan pejabat. Upaya meningkatkan kualitas SDM melalui jalur pendidikan, kesehatan dan peningkatan gizi rakyat.
Meski begitu berbagai kesulitan masih membelit, tantangan menghadang, beragam kerentanan tidak terbantahkan dalam tata kelola kelembagaan sebagaimana diharapkan.
Lantas bagaimana mengubah tantangan menjadi peluang? Mengubah kerentanan menjadi kekuatan? Jawabnya cukup beragam. Tetapi yang utama adalah bagaimana kita menyikapi seperti dikatakan banyak para ahli.
Pertama, adalah memahami tantangan dan kerentaan. Kita perlu berpikir positif bahwa tantangan bukanlah penghambat, tetapi tahapan menuju keberhasilan, maka harus dihadapi.
Baca Juga: Kopi Pagi: Menuju Adil dan Makmur (3)
Kerentanan menyadarkan perlunya membangun kekuatan secara sungguh-sungguh. Agama apa pun mengajarkan agar kita senantiasa bersungguh-sungguh dalam ucapan, sikap dan perbuatan, termasuk ketika berusaha atau berikhtiar mencapai tujuan.
