"Kalau kami jual sesuai HET pemerintah, kami rugi. Belanjanya saja sudah lebih dari itu. Kami kan cari untung meski marginnya tipis," tutur Roni.
Akibat lonjakan ini, ia menyebut konsumen kini lebih memilih beras kualitas di bawah premium atau beralih ke varian Pandan Wangi Super yang harganya beda tipis Rp95.000.
Baca Juga: Ringankan Beban Ekonomi Warga Depok, Ribuan Keluarga di Rangkapan Jaya Terima Beras 30 Kg
Konsumen Siasati Pengeluaran, Desak Operasi Pasar

Imbas melambungnya harga beras premium mulai melukai daya beli masyarakat bawah. Rina, 27 tahun, seorang ibu rumah tangga asal Sawangan, mengaku terpaksa mengubah pola konsumsi keluarganya agar dapur tetap ngebul.
"Sekarang kalau beli beras premium terus terang terasa berat. Jadi saya akali dengan mencampur beras premium dan beras curah supaya pengeluaran tidak membengkak," ujar Rina.
Rina berharap pemerintah tidak tinggal diam dan tidak hanya berfokus pada penyaluran beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Menurutnya, intervensi khusus untuk kelas beras premium sangat dibutuhkan saat ini.
"Kami berharap pemerintah menggelar operasi pasar khusus beras premium, bukan cuma SPHP. Supaya masyarakat tetap punya pilihan untuk membeli beras dengan kualitas yang biasa dikonsumsi sehari-hari," harapnya.
