Grup Djarum Resmi Kuasai Media Narasi, Siapa Pemiliknya? Ini Sosok di Balik Gurita Bisnis Besar

Kamis 10 Sep 2026, 12:19 WIB
Michael Bambang Hartono dikenal sebagai salah satu tokoh utama di balik perjalanan panjang bisnis keluarga Hartono dan Grup Djarum. (Sumber: Wilkipedia)
Michael Bambang Hartono dikenal sebagai salah satu tokoh utama di balik perjalanan panjang bisnis keluarga Hartono dan Grup Djarum. (Sumber: Wilkipedia)

POSKOTA.CO.ID - Foto lama Michael Bambang Hartono yang tengah menikmati makanan sederhana di sebuah warung pernah menarik perhatian warganet. Sosok yang dikenal sebagai salah satu konglomerat terbesar di Indonesia itu terlihat jauh dari kesan glamor yang biasanya melekat pada kehidupan para miliarder.

Namun, di balik gaya hidup yang sederhana, nama Michael Hartono tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang keluarga Hartono membangun kerajaan bisnis.

Michael sendiri meninggal dunia di Singapura pada 19 Maret 2026 dalam usia 86 tahun. Forbes mencatat kekayaan pribadinya sekitar US$18,9 miliar pada Maret 2026.

Baca Juga: Warisan Michael Bambang Hartono Dibagikan, Nilai Saham Tiap Ahli Waris Diperkirakan Capai Rp52 Triliun

Awal Perjalanan Michael Hartono Bersama Djarum

Kekayaan keluarga Hartono berawal dari bisnis rokok kretek Djarum yang dirintis sang ayah, Oei Wie Gwan. Setelah sang ayah meninggal dunia pada 1963, Michael dan adiknya, Robert Budi Hartono, mengambil alih bisnis tersebut ketika usianya masih relatif muda.

Tantangan yang mereka hadapi tidak ringan. Pabrik Djarum pernah mengalami kebakaran besar. Alih-alih berhenti, keduanya justru membangun kembali bisnis tersebut dan perlahan memperluas pasar.

Djarum kemudian berkembang menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia. Ekspansi juga diarahkan ke pasar internasional sejak dekade 1970-an.

Namun, bisnis keluarga Hartono tidak berhenti pada industri tembakau.

BCA, Properti, hingga Polytron Jadi Penopang Bisnis

Salah satu sumber kekayaan terbesar keluarga Hartono berasal dari kepemilikan saham di Bank Central Asia (BCA). Kepemilikan tersebut diperoleh setelah krisis ekonomi Asia 1997-1998 ketika Grup Salim kehilangan kendali atas bank tersebut.

Keluarga Hartono juga memiliki portofolio di sektor properti dan elektronik. Nama Polytron menjadi salah satu bisnis yang cukup dikenal masyarakat Indonesia, sementara sejumlah aset properti di Jakarta ikut memperkuat diversifikasi bisnis keluarga.

Di sisi lain, Michael memiliki sisi yang tidak selalu terlihat dari pemberitaan bisnis. Ia dikenal sebagai pemain bridge dan bersama timnya meraih medali perunggu pada Asian Games 2018.

Bisnis Keluarga Hartono Mulai Semakin Dekat dengan Dunia Digital

Perkembangan bisnis keluarga Hartono kemudian bergerak semakin jauh dari sektor konvensional. Melalui GDP Venture dan berbagai kendaraan investasinya, keluarga ini membangun portofolio di sektor digital.

Langkah terbaru yang mencuri perhatian adalah pengambilalihan PT Narasi Citra Sahwahita, perusahaan yang menaungi media digital Narasi.

Pengambilalihan tersebut dilakukan melalui PT Global Digital International (GDI), entitas investasi di bawah GDP Venture. Prosesnya telah memperoleh persetujuan seluruh pemegang saham dan diberitahukan kepada Menteri Hukum Republik Indonesia pada 2 September 2026.

“Pengambilalihan tersebut telah mendapat persetujuan dari seluruh pemegang saham perseroan,” demikian keterangan dalam pengumuman perusahaan.

Nilai transaksi dan rincian jumlah saham yang dialihkan belum diumumkan. Berdasarkan laporan DealStreetAsia, dokumen korporasi mencatat GDI menguasai 6.910 dari 6.911 saham Narasi Citra Sahwahita atau sekitar 99,99 persen.

Baca Juga: Loker DAMRI Terbaru 2026 Buka 2 Posisi Staf, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Gurita Bisnis yang Terus Beradaptasi

Jika ditarik ke belakang, perjalanan Michael Bambang Hartono menunjukkan bagaimana bisnis keluarga dapat berkembang melalui diversifikasi. Djarum menjadi fondasi awal, kemudian meluas ke perbankan, properti, elektronik hingga ekosistem digital.

Kini, setelah Michael meninggal dunia, perhatian bukan hanya tertuju pada besarnya warisan bisnis yang ditinggalkan, tetapi juga bagaimana keluarga Hartono melanjutkan ekspansi tersebut.

Akuisisi perusahaan di balik Narasi memperlihatkan satu hal: bisnis keluarga Hartono tidak berhenti pada sektor yang telah mereka kuasai selama puluhan tahun. Mereka juga mulai memperkuat posisi di industri yang sangat dekat dengan perubahan perilaku masyarakat, yakni media dan ekonomi digital.

Foto sederhana Michael saat menikmati makanan di warung mungkin terlihat sebagai potret kecil. Tetapi di balik sosok tersebut terdapat perjalanan panjang membangun salah satu kelompok bisnis terbesar di Indonesia.


Berita Terkait


News Update