Panitia menggabungkan nomor short course dan long course. Format tersebut membuat para perenang harus memiliki kemampuan lebih lengkap, bukan hanya mengandalkan kecepatan, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan karakter lintasan.
Persaingan pun menjadi semakin terbuka. Bagi atlet muda, setiap nomor pertandingan menjadi kesempatan untuk menguji hasil latihan. Sedangkan bagi pelatih, kejuaraan menjadi ruang untuk melihat sejauh mana perkembangan anak didiknya ketika berhadapan dengan perenang dari klub lain.
Di sinilah fungsi pembinaan terasa. Hasil perlombaan bukan hanya soal siapa yang berdiri paling tinggi di podium, tetapi juga tentang siapa yang mampu menunjukkan potensi untuk terus berkembang.
Panitia juga menyiapkan total hadiah dan uang pembinaan mencapai Rp20 juta. Selain itu, terdapat penghargaan Best Swimmer, klub terbaik short course, klub terbaik long course hingga juara umum.
Para peserta juga memperebutkan Piala Ketua KONI Kabupaten Sumedang, medali dan sertifikat.
Suasana pertandingan semakin semarak dengan pembagian doorprize bagi atlet, pelatih maupun pengantar.
Kejuaraan ini pun disebut telah mendapatkan pengakuan dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).
Kejuaraan renang ini bagi Sumedang merupakan suatu pembinaan bagi para calon atlet dengan motivasi tinggi yang sanggup membawa nama harum daerah.
Anggota Bidang Organisasi KONI Kabupaten Sumedang sekaligus pengurus Akuatik Indonesia Kabupaten Sumedang, Krisvan Permadi, berharap kejuaraan yang digelar secara konsisten dapat menjadi jalan bagi lahirnya atlet-atlet berprestasi.
Bahkan, targetnya pun tidak kecil. blBibit yang ditemukan dari berbagai kejuaraan diharapkan mampu berkembang hingga menjadi bagian dari kekuatan Sumedang pada ajang olahraga daerah.
"Harapannya bisa menghasilkan bibit atlet untuk kebutuhan Porda 2026 dan 2030 serta menjadi salah satu cabang olahraga andalan prestasi Sumedang," ujar Krisvan.
