Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Mencuat beragam usulan perbaikan dalam tata kelola pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG). Usulan tak hanya datang dari para wakil rakyat, pengamat, akademisi dan praktisi, tak terkecuali masyarakat.
Usulan dari berbagai kalangan ini sejalan dengan kehendak pemerintah, utamanya Badan Gizi Nasional (BGN) yang membuka diri untuk terus melakukan evaluasi guna meningkatkan tata kelola program MBG yang lebih baik lagi.
“Semua berharap program unggulan seperti MBG menjadi lebih baik lagi,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Teganya, Uang Rakyat untuk Bancakan
“Tiada henti melakukan perbaikan. Yang kurang menjadi baik, yang sudah baik terus ditingkatkan agar menjadi lebih baik lagi,” tambah Yudi.
“Tidak saja baik untuk programnya,tetapi semakin baik pelaksanaannya, kian tepat sasaran sehingga semakin baik pula manfaatnya yang dirasakan oleh rakyat,” urai mas Bro.
“Nah, soal tepat sasaran mencuat beragam pendapat yang sepertinya perlu disikapi secara bijak oleh pengelola program MBG,” kata Heri.
Diberitakan, mencuat usulan agar pelaksanaan program MBG perlu diarahkan secara bertahap dengan memprioritaskan daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) seperti dikatakan pengamat kebijakan publik, Muhammad Gumarang kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2026.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Kantor BGN Digeledah, Apa yang Terjadi?
Alasannya, pendekatan tersebut lebih realistis dibandingkan menjalankan program secara seragam di seluruh Indonesia, mengingat kondisi geografis, sosial, ekonomi dan infrastruktur setiap daerah berbeda.
“Namanya daerah 3T tentunya memiliki segala keterbatasan,baik di bidang infrastruktur, kondisi geografis yang sulit,belum lagi tingkat kesejahteraan yang relatif rendah, tertinggal dari daerah lain,” ujar Yudi.
“Bukankah daerah 3T selama ini sudah menjadi prioritas program MBG?” tanya Heri.
“Daerah 3T memang sudah menjadi bagian dari program MBG,tetapi ke depan semakin menjadi prioritas. Target utamanya 3T, kemudian meluas ke daerah sekitarnya,” kata Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Safari Politik Uji Respons Publik
“Dengan menjalankan program secara seragam di semua daerah, maka dimungkinkan anggaran MBG terserap pada daerah yang memiliki kemampuan ekonomi, status sosial dan akses pangan lebih baik,” jelas mas Bro.
‘Sekolah elite, dengan siswanya anak-anak dari keluarga berkemampuan lebih, sebaiknya tidak menjadi target program MBG,” kata Heri.
“Setidaknya sekolah dengan mayoritas keluarga tidak mampu atau kurang mampu menjadi prioritas. Sepertinya status sekolah seperti ini jumlahnya cukup besar, ada di mana-mana baik di kota-kota, pinggiran maupun pedesaan,” jelas mas Bro.
“Dengan begitu tepat sasaran tak hanya siswa sekolah penerima program, anggaran MBG pun makin tepat sasaran. Tapi ini semua adalah masukan, soal eksekusinya ada di tangan pengelola program,” kata Yudi.
