Belanja Non-Prioritas Sebaiknya 10–20 Persen dari Penghasilan, Ini Alasannya

Senin 17 Agu 2026, 19:01 WIB
Ilustrasi seseorang menghitung anggaran sebelum membeli barang agar pengeluaran konsumtif tidak mengganggu kondisi keuangan. (Sumber: Pexels/Karolina Grabowsk)
Ilustrasi seseorang menghitung anggaran sebelum membeli barang agar pengeluaran konsumtif tidak mengganggu kondisi keuangan. (Sumber: Pexels/Karolina Grabowsk)

POSKOTA.CO.ID - Mengatur keuangan sebenarnya bukan sekadar mencari barang dengan harga paling murah. Yang tidak kalah penting adalah melihat apakah pembelian tersebut memang sesuai kemampuan dan prioritas.

Hal ini menjadi penting ketika seseorang mulai tergoda membeli barang karena diskon, tren, atau sekadar ingin memiliki. Tanpa batas yang jelas, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali bisa ikut menggerus anggaran bulanan.

Financial planner Ode Kustriani Atmaja menyarankan agar pengeluaran untuk kebutuhan konsumtif non-esensial tetap dibatasi. Menurutnya, belanja di luar kebutuhan utama idealnya berada di kisaran 10–20 persen dari pendapatan bulanan setelah kebutuhan pokok, cicilan, dana darurat, dan investasi terpenuhi.

Baca Juga: Naik KRL Commuter Line Cuma Rp8 di HUT RI ke-81, Simak Syarat dan Layanan Khusus 17 Agustus

Jangan Jadikan Diskon Alasan untuk Belanja

Diskon memang menarik, tetapi harga murah tidak otomatis membuat sebuah barang menjadi kebutuhan. Justru di titik inilah seseorang perlu berhenti sebentar dan bertanya: apakah barang tersebut memang akan digunakan?

Ode mengingatkan bahwa pembelian konsumtif sebaiknya tidak dilakukan dengan mengorbankan kondisi keuangan.

“Yang terpenting, pembelian barang konsumsi tidak menggunakan utang konsumtif atau mengorbankan tujuan keuangan jangka panjang.”

Penggunaan cicilan atau paylater untuk barang yang sebenarnya tidak mendesak juga perlu diperhitungkan. Harga barang mungkin terlihat ringan ketika dibayar bertahap, tetapi kewajiban tersebut tetap menjadi beban pada penghasilan bulan berikutnya.

Selain harga pembelian, konsumen juga sebaiknya melihat biaya setelah barang dimiliki. Barang yang jarang digunakan tetapi membutuhkan perawatan, aksesori, atau tempat penyimpanan bisa membuat pengeluaran menjadi lebih besar.

Cara Lebih Bijak Sebelum Membeli Barang

1. Bedakan kebutuhan dan keinginan

Sebelum checkout atau membayar di kasir, pastikan barang tersebut memang dibutuhkan. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi pembelian impulsif.

Ode menyebut, “Membiasakan diri membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum berbelanja.”

2. Bandingkan harga dan manfaat

Jangan hanya membandingkan harga barang baru. Produk second juga bisa menjadi pilihan apabila kondisinya masih layak dan sesuai kebutuhan.

Selain itu, hitung seberapa sering barang akan digunakan. Semakin sering dipakai, semakin mudah menilai apakah uang yang dikeluarkan memang sepadan dengan manfaatnya.

3. Terapkan jeda sebelum membeli

Tidak semua barang harus langsung dibeli. Memberikan waktu untuk berpikir dapat membantu membedakan kebutuhan nyata dengan keinginan sesaat.

Baca Juga: Link Twibbon Gratis 17 Agustus 2026, Siap Pakai untuk Semarak HUT RI ke-81

4. Jangan memaksakan kemampuan finansial

Mengejar merek tertentu sebaiknya tidak sampai mengganggu dana darurat, investasi, kebutuhan rumah tangga, atau target keuangan lainnya.

Ode menegaskan, “Fokus pada kualitas dan manfaat, bukan hanya merek.

Pada akhirnya, mengatur belanja non-prioritas bukan berarti seseorang harus berhenti menikmati hasil kerja atau selalu memilih barang termurah. Intinya adalah memastikan setiap pengeluaran punya alasan yang masuk akal dan tidak mengganggu kebutuhan yang lebih penting.

Batas 10–20 persen dapat menjadi patokan awal, tetapi kondisi setiap orang tentu berbeda. Yang paling penting, keputusan belanja tetap disesuaikan dengan pendapatan, kewajiban, kemampuan finansial, serta tujuan keuangan jangka panjang.


Berita Terkait


News Update