Transportasi ke Kepulauan Seribu Dikelola TransJakarta, Fahira Idris Sampaikan 6 Rekomendasi ke Pramono

Senin 10 Agu 2026, 23:12 WIB
Anggota DPD RI, Fahira Idris. (Sumber: Dok. Istimewa)
Anggota DPD RI, Fahira Idris. (Sumber: Dok. Istimewa)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Anggota DPD RI, Fahira Idris mengapresiasi keputusan Gubernur Jakarta Pramono Anung mengalihkan pengelolaan transportasi menuju dan di Kepulauan Seribu dari Dinas Perhubungan Jakarta ke PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) per 2027.

Menurut Fahira, keputusan tersebut berpotensi menjadi terobosan besar dalam mewujudkan kesetaraan layanan transportasi bagi seluruh warga Jakarta. Namun, peralihan ini harus benar-benar mentransformasi layanan, bukan hanya memindahkan pengelola dan armada.

“Ini langkah maju untuk memastikan warga Kepulauan Seribu merasakan layanan transportasi publik yang mudah, terjangkau, terjadwal, aman, dan terintegrasi seperti warga di lima wilayah kota Jakarta. Keberhasilannya nanti bukan diukur dari siapa yang mengelola, tetapi dari seberapa besar perubahan yang dirasakan warga,” kata Fahira di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 10 Agustus 2026.

Senator Jakarta ini mengungkapkan, dalam beberapa kali agendanya berkeliling Kepulauan Seribu selama sepanjang 2026 ini, salah satu aspirasi terkuat yang disampaikan warga adalah hadirnya “JakLingko Laut”. Kapal bagi warga pulau bukan sekadar moda wisata, melainkan sarana utama untuk sekolah, berobat, bekerja, berdagang, mengurus administrasi, dan memenuhi kebutuhan pokok.

Baca Juga: Sambut Baik Putusan Kuota Internet Tidak Hangus, Fahira Idris Sampaikan 8 Rekomendasi

Agar kebijakan ini benar-benar menjawab kebutuhan warga, Fahira menyampaikan enam rekomendasi kepada Pramono.

  1. Jadikan TransJakarta sebagai integrator “JakLingko Laut”, bukan sekadar operator kapal

Layanan harus mencakup rute dari Jakarta daratan, kapal pengumpan antarpulau, jadwal tetap, sistem tiket terpadu, serta konektivitas langsung dengan bus TransJakarta, Mikrotrans, KRL, MRT, dan LRT setelah penumpang tiba di daratan.

“Warga harus dapat berpindah dari pulau ke sekolah, rumah sakit, pasar, atau tempat kerja dengan satu sistem perjalanan yang mudah dipahami. Integrasi tidak hanya soal kartu atau aplikasi, tetapi juga kesesuaian rute dan jadwal antarmoda,” ujarnya.

  1. Sediakan kuota khusus bagi warga Kepulauan Seribu

Pemegang KTP Kepulauan Seribu, pelajar, pasien beserta pendamping, pekerja, dan pelaku usaha lokal harus memperoleh prioritas, terutama pada akhir pekan dan musim liburan. Pemesanan tiket juga perlu tersedia secara daring dan luring agar lansia serta warga yang memiliki keterbatasan akses digital tetap terlayani.

  1. Tetapkan tarif terjangkau, adil, dan transparan

Pemprov Jakarta dapat menerapkan tarif khusus atau subsidi bagi warga Kepulauan Seribu serta kelompok prioritas, sementara wisatawan menggunakan skema tarif yang berbeda. Besaran subsidi, biaya operasional, dan tarif setiap rute harus diumumkan secara terbuka agar kebijakan tetap berkelanjutan dan tidak membebani warga.

  1. Tetapkan standar keselamatan dan keandalan layanan transportasi laut ketat

Seluruh kapal harus memenuhi standar kelaiklautan, kapasitas penumpang, manifest, ketersediaan jaket keselamatan, kompetensi awak, perawatan berkala, dan kesiapan menghadapi keadaan darurat. Informasi cuaca, perubahan jadwal, pembatalan, pengembalian tiket, serta layanan pengganti juga harus disampaikan secara cepat dan pasti.

  1. Libatkan pelaku transportasi laut lokal

Pemilik kapal, awak kapal, koperasi, dan pelaku usaha yang selama ini melayani warga tidak boleh langsung tersingkir. Mereka dapat dijadikan mitra operator atau pengelola kapal pengumpan antarpulau setelah memenuhi standar keselamatan dan pelayanan, disertai pelatihan serta dukungan peningkatan kualitas armada.

“Efisiensi tidak boleh menghilangkan mata pencaharian warga. TransJakarta justru dapat membangun ekosistem transportasi laut yang lebih tertib dengan menjadikan pelaku lokal sebagai bagian dari sistem,” tegas tuturnya.

  1. Jalankan peralihan secara bertahap, partisipatif, dan terukur

Sebelum beroperasi penuh pada 2027, Pemprov Jakarta perlu mengaudit kondisi kapal dan dermaga, memetakan kebutuhan perjalanan setiap pulau, menggelar konsultasi publik, serta melakukan uji coba pada beberapa koridor. Perubahan Perda dan Pergub juga harus dilakukan secara transparan.

Evaluasi layanan harus menggunakan indikator yang benar-benar dirasakan warga, seperti kemudahan memperoleh tiket, ketepatan waktu, waktu tunggu, keterjangkauan tarif, jumlah pembatalan, keselamatan perjalanan, penyelesaian pengaduan, dan keterhubungan seluruh pulau berpenduduk.

“TransJakarta Laut harus menjadi tulang punggung pelayanan publik sekaligus penggerak ekonomi dan pariwisata Kepulauan Seribu. Jika enam hal ini dijalankan, warga akan lebih mudah mendapatkan tiket, membayar lebih murah, bepergian lebih aman, dan memperoleh kepastian jadwal tanpa mematikan usaha masyarakat setempat,” pungkas anggota DPD Dapil Jakarta itu.


Berita Terkait


News Update