PANDEGLANG, POSKOTA.CO.ID - Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pandeglang mencatatkan, 11.000 anak tidak melanjutkan sekolah.
Kepala Disdikpora Pandeglang, Sutoto mengintensifkan kunjungan ke kampung-kampung untuk memberikan pemahamanan kepada para orang tua anak yang putus sekolah. Terdapat 103 anak usia produktif di bawah 21 tahun dari tiga kampung yang sudah dikunjungi.
"Kami melakukan pendekatan penanganan ATS berbasis pondok pesantren pada tahun ajaran 2026-2027. Anak-anak yang lulus tetapi tidak melanjutkan sekolah kami arahkan mengikuti pendidikan di ponpes yang dipadukan dengan program pendidikan kesetaraan," kata Sutoto, Selasa, 21 Juli 2026.
Ia mengatakan, para santri tetap dapat mengikuti pendidikan kesetaraan tanpa mengganggu kegiatan mengaji.
Baca Juga: Perayaan HAN 2026, Bupati Pandeglang Berkomitmen Wujudkan Kabupaten Ramah Anak
"Kegiatan PKBM disesuaikan dengan jadwal mengaji. Jadi tidak mengganggu aktivitas pesantren. Seluruh biaya pendidikan ditanggung melalui BOSP dan PIP," ucapnya.
Ia menjelaskan, penanganan ATS difokuskan pada dua kelompok, yakni anak yang lulus tetapi tidak melanjutkan sekolah dan anak putus sekolah. Pendekatan melalui pondok pesantren dinilai lebih efektif dibanding langsung mengajak mereka mengikuti pendidikan kesetaraan.
"Anak-anak tidak langsung kami ajak sekolah paket, tetapi terlebih dahulu masuk ke pondok pesantren. Setelah berdiskusi dengan para kiai, ternyata mereka sangat responsif selama kegiatan pendidikan tidak mengganggu waktu mengaji," tuturnya.
Keberhasilan pola tersebut mendorong Disdikpora untuk memperluas kolaborasi dengan pondok pesantren salafiyah dan PKBM di berbagai wilayah Kabupaten Pandeglang.
Jika setiap PKBM mampu merekrut sedikitnya 100 peserta didik baru dan terdapat sekitar 50 PKBM di Pandeglang, maka sekitar 5.000 anak dapat kembali mengenyam pendidikan.
"Kalau satu PKBM bisa menjaring 100 murid baru, dikalikan 50 PKBM berarti ada 5.000 anak yang bisa kembali sekolah. Saat ini jumlah anak yang lulus tetapi tidak melanjutkan sekolah di Pandeglang mencapai sekitar 11.000 orang," kata dia.
Menurutnya, model kolaborasi antara pondok pesantren dan PKBM menjadi salah satu solusi yang efektif untuk menekan angka Anak Tidak Sekolah di Kabupaten Pandeglang.
"Kami pun berkomitmen memperluas pola tersebut agar semakin banyak anak usia sekolah yang kembali memperoleh hak atas pendidikan," pungkasnya.
