Obrolan Warteg: Mengapa Harga Komoditas Pangan Melemah Saat Liburan Sekolah?

Kamis 02 Jul 2026, 06:00 WIB
Ilustrasi Obrolan Warteg, Kamis, 2 Juli 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)
Ilustrasi Obrolan Warteg, Kamis, 2 Juli 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Oleh : Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID – Harga komoditas sejumlah bahan kebutuhan pokok sejak awal pekan ini menunjukkan tren penurunan seperti jenis sayuran, cabai, daging dan telur ayam. Sementara harga beras relatif stabil pada beberapa kategori.

Pedagang dan masyarakat menduga penurunan yang terjadi sejak masa liburan sekolah ini seiring dengan dihentikannya pula program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Seperti diketahui, penyaluran MGB kepada siswa dihentikan sementara selama masa liburan sekolah sejak 22 Juni hingga sekolah kembali aktif pada 13 Juli 2026.

Dampaknya permintaan atas sejumlah komoditas pangan secara massal pada tingkat distributor untuk memenuhi dapur MBG menjadi menurun. Komoditas yang tidak terserap mengalir  ke pasar – pasar.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Yuk, Kita Kawal Komitmen Polri

“Stok di pasar melimpah ruah, pembeli berkurang harga pun ikut turun. Itu kata pedagang di sejumlah daerah,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

“Iya itu teori permintaan dan penawaran sering disebut supply and demand. Barang langka, permintaan melonjak harga akan naik, sebaliknya di saat stok melimpah, permintaan menyusut, harga cenderung turun,” tambah Yudi.

“Masih menurut pedagang, saat MBG jalan, sejumlah komoditas seperti sayuran, daging dan telur banyak tersedot ke dapur MBG. Sekarang dapur lagi libur, stok bergulir ke pasar hingga melimpah. Hukum ekonomi berlaku,harga turun,” urai Heri.

“Penurunan harga komoditas pangan ini disambut ceria ibu – ibu rumah tangga dengan meningkatkan kualitas gizi bagi keluarganya,” kata mas Bro.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Adil Makmur Harus Jelas, Tegas dan Transparan

“Yang jadi pertanyaan, apakah setelah dapur MGB kembali aktif, harga pangan akan kembali melonjak?” tanya Yudi.

“Soal naik dan turunnya harga pangan, persoalanya tidak sesederhana itu. Yang jelas ribuan dapur MBG menggerakkan perekonomian daerah tidak bisa dipungkiri. Dapur MGB menjadi salah satu pembeli besar dalam rantai pasok pangan di sejumlah wilayah,” jelas mas Bro.

“Berarti MBG menambah pasar baru bagi petani dan nelayan karena besarnya permintaan komoditas pangan untuk memenuhi darpur MBG,” kata Yudi.

“Ini peluang bagi petani, nelayan dan peternak lokal untuk meningkatkan produksinya .Termasuk peluang bagi kita untuk memanfaatkan lahan sempit menanam sayuran dan beternak ayam,” kata Heri.

“Tapi harus menggunakan teknologi tepat guna, jangan ngasal,” kata mas Bro.

“Maksudnya bagaimana Bro?” tanya Yudi.

“Musim tanam dan masa panen harus disesuaikan dengan jadwal liburan anak sekolah. Jangan sampai masa panen berbarengan saat liburan sekolah, MBG tutup, lantas mau dijual kemana,” jelas masBro.

“Betul juga, terlebih komoditas yang tidak tahan lama seperti sayur mayur, jika tidak cepat terjual mudah membusuk, harga pun ikut terpuruk,” kata Heri.


Berita Terkait


News Update