POSKOTA.CO.ID - Rumah tangga selebgram sekaligus influencer Larissa Chou dan suaminya, Ikram Rosadi, kembali menjadi perhatian publik. Hal itu terjadi setelah Larissa resmi mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.
Proses perceraian pasangan tersebut mulai terungkap setelah sidang perdana digelar pada 15 Juni 2026. Kabar tersebut sontak memicu kembali berbagai spekulasi terkait keretakan rumah tangga keduanya.
Sebelumnya, isu perpisahan sebenarnya telah mencuat sejak September 2025. Namun, baik Larissa maupun Ikram kala itu sama-sama membantah rumor yang beredar dan menegaskan bahwa hubungan mereka masih berjalan baik.
Kini, seiring bergulirnya proses perceraian, perhatian masyarakat tidak hanya tertuju pada persoalan rumah tangga mereka, tetapi juga pada latar belakang pekerjaan dan sumber kekayaan Ikram Rosadi.
Bisnis Menjadi Sumber Penghasilan Utama
Salah satu sumber pemasukan terbesar Ikram Rosadi disebut berasal dari dunia usaha. Ia diketahui menjalankan sejumlah bisnis di berbagai sektor, meski sebagian besar aktivitas usahanya tidak banyak dipublikasikan ke ruang publik.
Sebagai seorang pengusaha, keuntungan dari bisnis yang dijalankan menjadi fondasi utama dalam membangun aset dan kekayaan. Semakin berkembang usaha yang dikelola, semakin besar pula potensi pendapatan yang diperoleh.
Investasi Properti Jangka Panjang
Selain aktif berbisnis, Ikram juga dikabarkan memiliki sejumlah investasi di sektor properti. Investasi berupa rumah, bangunan, maupun aset properti lainnya kerap dipilih karena dinilai mampu menjaga bahkan meningkatkan nilai kekayaan dalam jangka panjang.
Kepemilikan aset properti juga sering menjadi salah satu indikator stabilitas finansial seseorang.
Baca Juga: Rakin Khan Anak Siapa dan Kerja Apa? Kenali Sosok Pria Malaysia yang Dikabarkan Dekat dengan Fuji
Menempatkan Dana di Instrumen Saham
Sumber kekayaan lain yang dikaitkan dengan Ikram Rosadi berasal dari investasi saham. Instrumen ini dikenal memiliki potensi pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang, meskipun tetap memiliki risiko sesuai kondisi pasar.
