Setiap kenaikan tarif, dikatakan dia, wajib berbarengan dengan jaminan keselamatan dan kenyamanan. Termasuk menekan minimal potensi insiden operasional.
“Feeder to work-nya. Jangan ada lagi misalnya ada insiden-insiden. Kita harus memberikan kenyamanan juga buat penumpang,” ungkap Nova.
Sementara itu, Direktur Utama PT. Transjakarta Welfizon Yuza menyampaikan, akan menindaklanjuti usulan wacana penyesuaian tarif.
Sehingga kebijakan yang diambil tetap terukur sesuai kemampuan bayar (ability to pay) dan kesediaan bayar (willingness to pay) masyarakat.
“Kami mengapresiasi dan berterima kasih ke Komisi B yang sudah memberikan feedback, masukan, dan insight,” kata Welfizon.
Ia menyadari, kondisi tarif Transjakarta sebesar Rp3.500 belum pernah ada penyesuaian sejak 2005. Namun, situasi perekonomian menjadi faktor krusial yang tidak boleh diabaikan.
Untuk itu, dikatakan Welfizon, Transjakarta berencana menggelar diskusi kelompok terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) untuk menjaring aspirasi langsung dari publik terkait rencana kenaikan tersebut.
“Kami mendapatkan banyak masukan yang nanti akan kami ramu, kami akan diskusikan, yang kita akan juga lakukan tindak lanjut FGD untuk mendengarkan dan juga mendapatkan masukan dari masyarakat,” ujar Welfizon. (cr-4).
