Oleh :Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Kita masih ingat semboyan “Jasmerah” akronim dari “jangan sekali – kali meninggalkan sejarah.” Menurut jejak sejarah, semboyan ikonik ini dicetuskan Presiden Soekarno pada pidato kepresidenan memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966.
Soal belajar sejarah bangsanya, kini diingatkan kembali oleh Presiden Prabowo Subianto, di sela menyampaikan pidato di hadapan sidang paripurna DPR RI, di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026 – bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional.
Seperti diberitakan, dalam kesempatan itu Presiden Prabowo mengajak bangsa Indonesia tetap belajar dari negara lain sekaligus mempelajari sejarah agar tidak mengulangi pengalaman kelam yang pernah dialami para pendahulu bangsa.
Kata Prabowo: Ada suatu adagium bahwa mereka yang tidak belajar dari sejarah akan dihukum oleh sejarah, akan mengulangi sejarah kelam yang sama yang dialami oleh nenek moyang mereka. Ini adagium yang terjadi di banyak negara.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Jangan Biarkan Pejabat Korupsi
“Belajar sejarah berarti belajar kepada pengalaman masa lalu. Masa lalu sebagai pijakan agar yang suram jangan kita ulangi, yang cerah, kita lanjutkan,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Dengan belajar sejarah menuntun kita dapat terhindari dari masa suram dan kelam. Sebaliknya tanpa belajar sejarah, bisa jadi akan terjebak mengulangi masa – masa kelam,” ujar mas Bro.
“Setuju Bro, Belajar sejarah adalah belajar ke masa lalu, tetapi bukan berarti kita harus kembali ke masa lalu, terlebih ke masa kelam,” kata Heri.
“Sejarah adalah fakta sesuatu terjadi, mengapa bisa terjadi dan dampak yang ditimbulkan bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara. Fakta-fakta inilah yang kita pedomani untuk merumuskan masa depan lebih baik lagi,” urai Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Keluar dari Zona Nyaman, Yuk!
“Belajar sejarah agar kita tidak tercerabut dari jati dirinya sebagai bangsa Indonesia, tetapi kian memperkuat jati diri. Generasi boleh berganti, tetapi jati diri bangsa, tidak,” kata mas Bro.
“Estafet kepemimpinan nasional setiap periode lima tahun bisa berganti, kebijakan boleh mengikuti, tetapi tujuan utama membangun negeri tidak boleh berganti,” urai Heri.
“Memajukan kesejahteraan umum, kemakmuran rakyat, keadilan sosial serta mencerdaskan kehidupan bangsa sudah terukir jelas dalam konstitusi negara kita, UUD 1945 yang berfalsafah Pancasila ,” ujar mas Bro.
“Menciptakan kesejahteraan rakyat, jangan dimanipulir menjadi kesejahteraan pejabat dan kerabat. Keadilan bagi sementara orang , jangan dikemas seolah keadilan bagi semua orang,” kata mas Bro.