Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID - Hari Kebangkitan Nasional diperingati sekarang, Rabu, 20 Mei 2026. Peringatan kali ini menjadi momen penting untuk memantapkan kembali semangat nasionalisme, persatuan, dan kesatuan.
Sulit dipungkiri, situasi kini penuh dengan tekanan, bukan saja dari faktor global, tak terkecuali dari dalam negeri. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak lepas dari kondisi global yang penuh tekanan.
“Situasi internal seperti konflik sosial yang terjadi, meski masih bersifat lokal, harus lebih diantisipasi agar tidak semakin meluas,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Tawuran antar geng, antarkampung, meski berskala kecil, tetap saja harus disikapi sebagai embrio perselisihan yang bisa meluas dan masif,” ujar Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Tak Sebatas Kata Maaf
“Setuju, jangan bilang tawuran itu sudah biasa,konflik lingkungan itu lazim bisa terjadi. Jika sikap itu yang dikedepankan, tak ubahnya membiarkan tawuran dan konflik terus berlarut,” urai Heri.
“Yang dibutuhkan sekarang, di tengah beragam tekanan, adalah membangun kebersamaan dan memperkuat solidaritas sosial. Nilai –nilai kekeluargaan dan kegotongroyongan menjadi benteng mengatasi beragam persoalan, baik sosial, ekonomi dan keamanan,” tutur mas Bro.
“Kebangkitan nasional dapat dimaknai pula sebagai upaya membangkitkan semangat kepedulian sosial terhadap masyarakat yang sedang menderita akibat keadaan sebagaimana telah dicontohkan Dr. Wahidin Sudirohusodo,” papar Heri.
“Iya, semuanya harus bangkit menghalau segala macam tekanan baik dari dalam maupun luar negeri. Bangkit mengatasi semua problema yang menghadang kemajuan dan terciptanya kemakmuran,” ucap Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Pindah IKN, Nanti Dulu
“Bangkit pula melawan ketidakadilan, kesenjangan dan melawan pencuri aset negara,” ujar Heri.
“Bagi para elit dan pejabat publik bangkit melakukan pengabdian terbaiknya untuk kemajuan bangsa dan negara,” beber Yudi.
“Termasuk bangkit dari zona nyaman agar tidak terlena. Jangan sampai karena kursi empuk menjadikan terkantuk, jangan karena kursi bergengsi lantas lupa diri,” ungka mas Bro.
“Terlebih pada situasi sekarang, dibutuhkan gerak cepat mengatasi keadaan yang serba instan dan terus berubah,” kata Yudi.
“Kita, juga harus bangkit dari zona nyaman, ya?” beber Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Lihatlah Isi Pesan, Jangan Siapa yang Kirim Pesan
“Kalau kita sih nggak usah disuruh bangkit, sudah bangkit sendiri karena nggak punya kursi nyaman. Lagian diam tak bergerak, dapur nggak bakalan ngebul,” ujar Yudi.
"Maksudnya kalau dulu nyaman dilayani, sekarang ganti melayani," kata Heri.