JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Kunjungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ke fasilitas pengolahan sampah modern CopenHill di Kopenhagen, Denmark, dinilai penting sebagai langkah belajar pengelolaan sampah perkotaan.
Namun, Jakarta diingatkan agar tidak sekadar meniru teknologi tanpa membangun sistem pengelolaan yang kuat dari hulu ke hilir.
Pakar lingkungan hidup, Mahawan Karuniasa menilai keberhasilan CopenHill tidak hanya terletak pada teknologi waste-to-energy atau tampilan fasilitas modernnya, melainkan ditopang sistem pengelolaan sampah yang disiplin dan terintegrasi.
“CopenHill memang menarik karena menunjukkan fasilitas pengolahan sampah bisa dirancang modern, bersih, edukatif, bahkan menjadi ruang publik. Tapi keberhasilan itu tidak berdiri sendiri,” ujar Mahawan dalam keterangannya, Selasa, 19 Mei 2026.
Baca Juga: Warga Jakarta Sambut Baik Keseriusan Pemprov DKI Terkait Pengolahan Sampah
Menurutnya, sistem di Kopenhagen sudah ditunjang pemilahan sampah sejak rumah tangga, pengangkutan tertata, kontrol kualitas sampah yang ketat, standar emisi tinggi, hingga pemanfaatan energi yang terintegrasi dengan sistem kota.
Mahawan menegaskan Jakarta belum bisa meniru model tersebut secara mentah. Pasalnya, karakter sampah di Jakarta masih didominasi sampah campur, basah, dan memiliki kandungan organik tinggi.
“Kalau kondisi seperti itu langsung diarahkan ke teknologi termal atau waste-to-energy, risikonya efisiensi energi rendah, emisi meningkat, biaya operasional besar, muncul residu berbahaya, bahkan bisa memicu penolakan sosial,” katanya.
Ia menilai pelajaran utama dari CopenHill bukan sekadar membangun fasilitas ikonik, melainkan membangun ekosistem pengelolaan sampah yang konsisten dan berkelanjutan.
Baca Juga: PLN UID Jaya Serahkan Mesin Cacah dan Pelet Listrik ke GCB, Pengolahan Sampah Ramah Lingkungan
Karena itu, Mahawan meminta Pemprov DKI tetap memprioritaskan pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber. Sampah organik, kata dia, harus memiliki jalur pengolahan tersendiri melalui kompos, maggot, biodigester, maupun fasilitas pengolahan organik skala kawasan.
Sementara sampah anorganik bernilai ekonomi perlu diarahkan ke bank sampah, TPS3R, industri daur ulang, serta skema tanggung jawab produsen.
“Teknologi seperti RDF atau waste-to-energy sebaiknya ditempatkan sebagai pengolah residu terakhir, bukan menjadi pembenar produksi sampah campur,” ucapnya.
Mahawan juga menyoroti pentingnya konsistensi sistem pengelolaan sampah. Ia mengingatkan jangan sampai masyarakat sudah memilah sampah dari rumah, tetapi akhirnya dicampur kembali saat proses pengangkutan.
Baca Juga: Telkom Gerakan Karyawan Lahirkan Inovasi Pengolahan Sampah lewat GoZero% Bandung
Menurutnya, Pemprov DKI perlu memastikan adanya armada pengangkutan terpilah, standar emisi ketat, transparansi biaya dan kontrak pengelolaan, hingga pengelolaan abu residu yang aman.
Selain itu, perlindungan terhadap pemulung dan ekosistem daur ulang juga harus menjadi perhatian dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah modern di Jakarta.
“Jakarta bisa belajar dari CopenHill secara substantif, yakni meniru kedisiplinan sistemnya, bukan hanya bangunan atau teknologinya,” tutur Mahawan.