PALMERAH, POSKOTA.CO.ID - Sejumlah pengendara roda dua mengeluhkan antrean panjang pengisian bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite di sejumlah SPBU wilayah Jakarta. Antrean kendaraan terlihat mengular, terutama di SPBU kawasan Jakarta Barat.
Salah satu antrean panjang terpantau di SPBU kawasan Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat. Meski stok Pertalite disebut masih tersedia dan tidak mengalami kekosongan sejak beberapa hari terakhir, antrean kendaraan roda dua terus memadati area pengisian BBM subsidi tersebut.
Kondisi ini dikeluhkan para pengendara karena mereka harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan Pertalite.
Salah satu pengendara motor, Chandraditya, 28 tahun mengaku dalam beberapa hari terakhir dirinya memilih mengisi BBM pada malam hari untuk menghindari antrean panjang di SPBU.
Baca Juga: Nelayan di Labuan Pandeglang Kesulitan Dapat BBM Solar, Pemerintah Diminta Tambah Kuota
“Kalau saya biasanya pilih isi malam hari. Cuma kebetulan tadi bensinnya habis, jadi terpaksa harus antre panjang,” ujar Chandraditya saat ditemui Poskota di kawasan Palmerah, Jumat, 15 Mei 2026.
Menurut warga Kembangan, Jakarta Barat itu, antrean panjang bukan disebabkan kelangkaan Pertalite. Namun, hampir seluruh SPBU yang ia datangi mengalami kondisi serupa.
“Setiap pom bensin yang saya datangi pasti antre,” katanya.
Ia mengaku tetap memilih menggunakan Pertalite karena dinilai lebih ekonomis dan sesuai dengan spesifikasi kendaraan yang digunakan sehari-hari.
“Motor saya motor bebek, jadi kalau pakai Pertamax sayang juga. Kecuali kalau motor gede mungkin saya pilih BBM RON lebih tinggi,” tuturnya.
Chandraditya menilai antrean panjang berpotensi membuat sebagian masyarakat beralih ke BBM non subsidi demi menghemat waktu.
“Kalau antreannya panjang, orang pasti lebih pilih yang antreannya sedikit,” ucap dia.
Baca Juga: Kenaikan Harga BBM jadi Angin Segar, Indomobil Dorong Penjualan EV
Pengguna Pertamax Ikut Rasakan Dampaknya
Kondisi serupa juga dirasakan Kiki, 34 tahun, seorang karyawan swasta di Jakarta Pusat yang menggunakan BBM jenis Pertamax.
Ia menilai antrean di jalur pengisian Pertamax belakangan ikut meningkat, salah satunya di kawasan Slipi, Jakarta Barat.
“Mungkin karena antrean Pertalite panjang, jadi banyak yang akhirnya beli Pertamax,” kata Kiki.
Ia mengaku menggunakan Pertamax karena kapasitas mesin motornya berada di atas 150 cc sehingga membutuhkan BBM dengan oktan lebih tinggi.
Baca Juga: Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Naik per 4 Mei 2026, Pertamina Dex Tembus Rp27.900 per Liter
“Kalau saya karena motor saya CC-nya besar, jadi pakai Pertamax,” ujarnya.
Kiki juga mengungkapkan sebelumnya dirinya rutin menggunakan Pertamax Turbo. Namun, kenaikan harga membuatnya beralih ke Pertamax reguler.
“Turbo harganya tinggi banget, jadi saya beralih pakai Pertamax sejak harganya naik,” tutur dia.
SPBU Pastikan Stok BBM Non Subsidi Aman
Sementara itu, SPBU Slipi yang berada di samping Pengadilan Negeri Jakarta Barat diketahui tidak menjual Pertalite karena termasuk kategori SPBU Signature yang hanya menyediakan BBM non subsidi.
Kepala Shift SPBU tersebut, Sandi memastikan stok BBM non subsidi seperti Pertamax masih dalam kondisi aman dan belum terjadi kelangkaan.
“Stok aman, belum ada kelangkaan,” kata Sandi.
Ia menjelaskan, SPBU tersebut setiap hari menerima suplai sekitar 16.000 kiloliter untuk masing-masing jenis BBM non subsidi yang dijual.
Menurutnya, pengelolaan stok dilakukan secara rutin agar pasokan BBM tetap tersedia bagi konsumen.
“Biasanya siang hari kami sudah pesan untuk kebutuhan besok. Jadi dipastikan stok dan ruang tangki cukup untuk pengisian berikutnya,” jelasnya.