Kondisi permukiman warga di Gang Venus, Tambora Jakarta Barat. Sejumlah warga terlihat mencari matahari untuk berjemur akibat permukiman yang padat. (Sumber: Pos Kota/Pandi Ramedhan)

JAKARTA RAYA

Wilayah Tambora Jakarta Barat jadi RW Kumuh Ekstrem, Pemerintah Terapkan Hal Ini

Kamis 07 Mei 2026, 20:38 WIB

TAMBORA, POSKOTA.CO.ID - Kecataman Tambora, Jakarta Barat, menjadi salah satu lokasi yang masuk dalam pemetaan sebagai kumuh. Salah satu lokasi RW kumuh berada di RW 03 Kelurahan Jembatan Besi.

Berdasarkan pendataan, di Kelurahan Jembatan Besi penduduknya berjumlah sekitar 35 ribu jiwa.

Ketua RW 03 Kelurahan Jembatan Besi, Didi Mawardi mengatakan, wilayahnya menjadi salah satu yang menyandang kategori kumuh berat berdasarkan kajian Badan Pusat Statistik (BPS).

Adapun, di RW 03 terdapat sekitar 872 hingga 1.000 Kepala Keluarga (KK) yang berdesakan di lahan yang sangat terbatas dan membuat kawasan ini menjadi sangat padat.

Baca Juga: Angka RW Kumuh di Jakarta Menurun 52 Persen, Pramono Anung Minta Data Diperdalam Lagi

Ia menyebutkan permasalahan yang terjadi sehingga di wilayah tersebut menjadi sangat padat.

"Terkait kategori kumuh itu adalah memang padat penduduk. Kalau orang kan ngebangun ke samping, kita ke atas karena enggak ada lahan. Nah itu mereka bahkan satu rumah bisa 4 sampai 5 KK. Tidur pun mereka kadang suka shift-shiftan, gantian," kata Didi kepada wartawan, Kamis, 7 Mei 2026.

Saking padatnya, Didi menuturkan, plafon rumah warga saling menempel hingga membuat area permukiman tak terjangkau sinar matahari.

Selain itu, tidak ada ruang terbuka hijau (RTH) juga menyebabkan seluruh kawasan dipenuhi oleh permukiman tanpa adanya ruang terbuka.

Baca Juga: Pemprov Jakarta Targetkan 445 RW Kumuh Ditata, Bantaran Rel jadi Prioritas

Kondisi tersebut bahkan membuat akses mobil pemadam kebakaran (damkar) sangat sulit melintas ketika terjadi kebakaran khususnya di wilayah Kecamatan Tambora.

"Kalau misalnya nih di daerah lain yang enggak kumuh itu kan ada jarak jauh kan, tetapi kalau di Jembatan Besi nih, bisa lihat langsung kan nempel bener (antartembok)," tuturnya

Camat Tambora, Pangestu Aji mengatakan, berdasarkan data Pergub Nomor 33 Tahun 2024, wilayahnya memang masih memiliki banyak titik yang masuk dalam kategori permukiman kumuh.

Dari 11 kelurahan yang ada di Kecamatan Tambora, delapan di antaranya masih memiliki permukiman kumuh, mulai dari tingkat sangat ringan hingga berat.

Baca Juga: Cerita Warga Tanah Tinggi di Balik Rencana Penataan 445 RW Kumuh di Jakarta

"Adapun sebarannya meliputi Kelurahan Kalianyar, Duri Selatan, Tanah Sereal, Krendang, Jembatan Besi, Angke, Jembatan Lima, dan Pekojan. Jadi dari 11 kelurahan, ada 8 kelurahan se-Kecamatan Tambora yang masih kategori kumuh," kata Pangestu.

Salah satu parameter utama wilayahnya disebut kumuh adalah kepadatan penduduk yang sudah tidak tertampung serta keterbatasan infrastruktur dasar seperti sanitasi.

Selain itu, masih banyak juga ditemukan warga Tambora yang tidak memiliki septic tank atau sanitasi layak dan membuang limbah langsung ke saluran penghubung (PHB).

Pangestu juga menyebut salah satu penyebab banyaknya RW kumuh di Tambora yaitu kondisi ekonomi masyarakat yang sekitar 40 persennya merupakan kelas menengah ke bawah.

Baca Juga: Pengamat Nilai Penataan RW Kumuh Langkah Pemerintahan Hilangkan Kesenjangan Sosial

"Dengan kondisi bangunan seadanya, satu rumah lah itu terdiri dari beberapa KK, dan tidurnya mungkin bisa sampai tiga shift, gantian-gantian, masih ada yang seperti itu. Jadi misalnya malam orang tuanya tidur, anaknya di luar rumah," ungkapnya.

Ia menambahkan, keterbatasan ruang pun membuat masyarakat kesulitan memikirkan rencana jangka panjang karena fokus pada kelangsungan hidup harian.

Sehingga, masyarakat sekitar bisa dibilang hanya bisa bertahan dengan kehidupan mereka. Dalam artian mereka bertarung setiap harinya hanya demi mencari sesuap nasi.

"Jadi mau mikirin untuk yang baik udah susah deh, yang penting untuk mikirin gimana hari ini, besok dan depannya tuh agak susah, hari ini gimana dulu nih, buat makan dan hidup aja susah, apalagi mikirin yang lain kan," pungkasnya.

Baca Juga: DPRKP Sebut Penataan 55 RW Kumuh di Jakarta Sudah Dimulai

Pangestu menyebut bahwa masyarakat Tambora memiliki semangat yang tinggi dan siap mendukung penuh program penataan dari pemerintah.

"Saya yakin apabila kita semua bisa ada program atau pembinaan melakukan perbaikan atau pembenahan, masyarakat akan support. Inilah kekuatan Tambora sebetulnya, bukan terlihat terlihat hanya karena padat dan kumuh, tapi sebetulnya di Kecamatan Tambora ini bisa rapi, lebih baik," kata Pangestu.

Terkait rencana penataan ke depan, Pangestu menilai pemerintah tidak bisa semata-mata menggunakan pendekatan represif.

Pihaknya akan memulai dengan penataan lingkungan sekitar sambil mendorong kemampuan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha masyarakat.

Seperti misalnya home industri konveksi yang merupakan komoditas utama di kawasan Tambora.

"Kalau nakut-nakutin ya mereka banyak keterbatasan. Kita bantu dari segala aspek, mereka ini berjuang untuk hidup aja susah. Jadi ya harus pendampingan, pembinaan," jelasnya.

"Insyaallah kalau semua taraf ekonominya mereka akan naik, itu pasti pemikirannya juga naik, mindset-nya juga udah berubah," sambung Pangestu.

Tags:
penyebab RW kumuh di TamboraRW kumuh Jembatan Besipermukiman kumuh Tambora Jakarta BaratRW kumuhJakarta Barat

Pandi Ramedhan

Reporter

Muhammad Dzikrillah Tauzirie

Editor