Di sisi lain, Santiko tak menampik bahwa kenaikan harga BBM tetap menjadi beban bagi masyarakat.
Efeknya bahkan merembet ke berbagai sektor, termasuk kenaikan harga bahan baku seperti plastik.
“Kenaikan ini pasti terasa berat. Karena bukan cuma bensin, efeknya ke harga-harga lain juga ikut naik,” jelasnya.
Namun sebagai pelaku industri, Indomobil memilih mencari solusi. Salah satunya dengan mendorong adopsi kendaraan listrik yang dinilai lebih hemat dalam jangka panjang.
Santiko menegaskan bahwa pihaknya tidak serta-merta “diuntungkan” dari kenaikan BBM. Namun, kondisi ini dimanfaatkan untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik, sejalan dengan arahan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Indomobil pun menggencarkan berbagai strategi, mulai dari penguatan produk, layanan, hingga skema pembiayaan. Dalam ajang pameran seperti Indomobil Expo 2026, berbagai promo ditawarkan, seperti:
- Bunga ringan
- Uang muka rendah
- Cicilan ringan hingga tenor panjang (bahkan sampai 7 tahun)
Tak hanya itu, jaringan Indomobil yang mencapai sekitar 300 titik di seluruh Indonesia menjadi nilai tambah bagi konsumen.
“Dengan jaringan luas, customer bisa merasa lebih nyaman. Servis bisa dilakukan di banyak tempat, jadi lebih praktis,” tutur Santiko.
