JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan perhatian terhadap kesejahteraan pekerja, termasuk para driver ojek online (ojol), dengan meminta perusahaan aplikator menurunkan biaya potongan aplikasi hingga maksimal 8 persen. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan pendapatan para mitra driver yang selama ini mengeluhkan besarnya potongan dan skema program di aplikasi.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan persoalan yang lebih kompleks. Riki 30 tahun, driver ojol yang telah bergabung sejak 2016 dan kini telah berkeluarga dengan satu anak, menilai wacana pembatasan potongan tersebut memang baik, tetapi belum sepenuhnya menjawab realitas yang dialami para driver.
“Maksudnya terkait tanggapan Presiden itu gimana Bang? Sebenarnya bagus sih sampai 8 persen itu. Cuma kenyataannya di lapangan beda. Kita terima ongkir Rp16.000, tapi bersihnya cuma Rp10.400. Itu berapa persen coba? Jauh lebih besar dari yang dibilang,” ujar Riki kepada Poskota di Jakarta Garden City (JGC), Jakarta Timur, Sabtu, 2 Mei 2026.
Ia juga menyoroti berbagai program dalam aplikasi yang dinilai memberatkan, seperti Argo Goceng, slot GoFood, langganan gacor, hingga GoSend multi. Menurutnya, program-program tersebut membuat driver harus mengeluarkan biaya tambahan agar tetap mendapatkan order.
Baca Juga: ITD Summit 2026: TelkomGroup Buktikan AI Bukan Tren, tapi Alat Kerja Nyata
“Kita disuruh bayar Rp20.000 untuk 10 trip. Itu nggak masuk akal. Kalau nggak ikut, orderan sepi. Tapi kalau ikut, kita malah harus bayar lagi. Jadi serba salah,” kata Riki.
Riki mengungkapkan, sistem tersebut juga berdampak pada ketimpangan distribusi order. Driver yang mengikuti program cenderung diprioritaskan, sementara driver reguler justru kesulitan mendapatkan penumpang.
“Kalau ikut program, orderan dikasih terus. Tapi yang reguler malah senyap. Padahal tarif reguler bisa Rp10.000, tapi kita nggak kebagian order,” ujarnya.
Ia bahkan menilai pembagian pendapatan tidak transparan. Dalam beberapa kasus, pelanggan membayar ongkos hingga Rp18.000-Rp20.000, namun driver hanya menerima Rp5.000.
“Customer bayar Rp20.000, kita cuma terima Rp5.000. Sisanya ke mana kalau bukan ke aplikator?” ucapnya.
Baca Juga: Empat Perampok Terekam CCTV Aniaya Nenek hingga Tewas, Polisi Selidiki
Kini, menurutnya, tanpa mengikuti program, penghasilan bahkan sulit menembus Rp100.000 meski bekerja hingga larut malam. Data penghasilan yang ia tunjukkan juga memperlihatkan fluktuasi yang tidak menentu, mulai dari Rp352.000 dalam sepekan terakhir, hingga kisaran Rp460.000–Rp500.000 pada minggu-minggu sebelumnya.
“Seminggu Rp300 ribuan, cukup nggak buat keluarga? Nggak nentu, kadang lebih kecil lagi,” ucapnya.
Riki bahkan mengusulkan agar pengelolaan transportasi online dapat diambil alih oleh pemerintah demi menciptakan keadilan bagi para driver.
“Kalau bisa pemerintah ambil alih aja. Biar lebih adil. Sekarang aplikator terlalu kejam,” ujar Riki.
Hal serupa disampaikan Chandra 37 tahun, driver ojol yang bergabung sejak 2018 dan juga telah berkeluarga. Ia menilai sistem program seperti langganan gacor semakin menekan pendapatan driver.
“Kalau kita ikut langganan gacor, lebih dari 10 trip itu dipotong Rp20.000. Tapi kalau nggak ikut, orderan anyep. Jadi mau nggak mau harus ikut,” kata Chandra.
Menurutnya, skema tersebut membuat pendapatan tidak menentu. Bahkan, dalam kondisi tertentu, penghasilan harian sangat jauh dari kata layak.
“Saya pernah 12 jam narik cuma dapat Rp65.000. Kadang malah cuma Rp20.000 seharian. Itu buat makan sama ngopi aja nggak cukup,” ujar Chandra.
Chandra juga membandingkan kondisi saat ini dengan masa awal dirinya menjadi driver. Ia menyebut, dulu sistem lebih sederhana dan adil karena tidak banyak program tambahan.
“Kalau dulu semua sama, nggak ada slot atau program macam-macam. Order dibagi rata. Lagi sepi pun masih bisa dapat Rp150.000 sehari,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti pembagian bonus hari raya (BHR) yang dinilai tidak merata antar driver.
“BHR itu nggak adil. Ada yang dapat, ada yang nggak. Padahal sama-sama kerja lama, sampai 12 jam,” katanya.
Baik Riki maupun Chandra berharap pemerintah tidak hanya mengatur besaran potongan aplikasi, tetapi juga mengevaluasi sistem program yang ada. Meski demikian, keduanya tetap melihat langkah Presiden Prabowo Subianto sebagai awal yang positif.
Mereka berharap kebijakan pembatasan potongan hingga 8 persen benar-benar diterapkan dan diikuti dengan pengawasan ketat, sehingga kesejahteraan driver ojol dapat meningkat secara nyata.
Selain itu, para driver itu menginginkan 4 program dihilangkan dari aplikator, diantaranya yakni:
- Aceng Argo goceng
- Slot gofood
- Langganan gacor
- Gosend multy. (cr-4)