BBCA Mulai Buyback Saat Harga Saham Melemah, BCA Kirim Sinyal Optimisme ke Pasar

Sabtu 02 Mei 2026, 07:56 WIB
Perseroan mulai merealisasikan program buyback saham sebagai upaya menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan harga saham BBCA. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

Perseroan mulai merealisasikan program buyback saham sebagai upaya menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan harga saham BBCA. (Sumber: Poskota/Bilal Nugraha Ginanjar)

POSKOTA.CO.ID - PT Bank Central Asia Tbk atau PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mulai merealisasikan aksi pembelian kembali saham atau buyback di tengah tekanan harga saham yang masih membayangi pergerakan emiten perbankan tersebut.

Langkah ini dinilai menjadi sinyal bahwa perseroan tetap optimistis terhadap prospek bisnis jangka panjang, meski pasar saham sedang bergerak fluktuatif.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, saham BBCA ditutup di level 5.850 pada Kamis, 30 April 2026. Jika dibandingkan dengan posisi tertingginya di kisaran 10.950 dalam beberapa tahun terakhir, harga saham BBCA telah terkoreksi sekitar 35,36 persen atau turun lebih dari 3.200 poin.

Penurunan tersebut membuat pelaku pasar mulai mencermati langkah strategis yang ditempuh perseroan. Di tengah tren pelemahan itu, BCA justru mulai menjalankan program buyback saham yang sebelumnya telah memperoleh restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 pada 12 Maret 2026.

Baca Juga: 5 Laptop Bekas Worth It untuk Mahasiswa Baru 2026, Cocok buat Tugas, Editing hingga Kuliah Online

Program buyback resmi dimulai pada 28 April 2026 dan akan berlangsung selama 12 bulan hingga 11 Maret 2027.

Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, mengatakan aksi korporasi tersebut menjadi bentuk keyakinan perusahaan terhadap kondisi pasar modal domestik sekaligus kekuatan fundamental bisnis perseroan.

“Pelaksanaan buyback merupakan sinyal optimisme kami di pasar modal Indonesia,” ujar Hendra dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat, 1 Mei 2026.

Menurut dia, manajemen tetap percaya diri terhadap kemampuan perseroan menjaga pertumbuhan bisnis di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian. Buyback juga menjadi upaya perusahaan dalam menjaga kepercayaan investor terhadap nilai jangka panjang saham BBCA.

Dalam praktiknya, buyback merupakan aksi korporasi ketika perusahaan membeli kembali saham yang beredar di pasar. Kebijakan ini lazim dilakukan emiten untuk menjaga stabilitas harga saham, memperkuat persepsi pasar terhadap valuasi perusahaan, hingga meningkatkan kepercayaan investor.

Di tengah tekanan pasar saham global dan domestik, langkah buyback kerap dibaca sebagai sinyal bahwa manajemen menilai harga saham perusahaan berada di bawah nilai wajarnya.

BCA memastikan pelaksanaan buyback tidak akan mengganggu kondisi keuangan maupun operasional perusahaan. Perseroan menilai likuiditas dan struktur permodalan tetap berada pada level yang kuat sehingga aksi korporasi tersebut dapat dijalankan secara terukur.

Baca Juga: 3 Hp Samsung 5G Murah Terbaik 2026 di Bawah Rp5 Juta, Spek Ngebut dan Baterai Awet

Selain itu, manajemen menegaskan seluruh proses buyback akan dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG), serta mematuhi regulasi yang berlaku di pasar modal Indonesia.

“Kami mengungkapkan apresiasi sebesar-besarnya atas kepercayaan dan dukungan dari segenap pemegang saham. BCA senantiasa berfokus pada fundamental bisnis perseroan, serta melangkah dengan pruden pada tahun 2026,” kata Hendra.

Sejumlah analis pasar melihat buyback dapat menjadi sentimen positif jangka pendek bagi saham BBCA. Namun demikian, efektivitas langkah tersebut tetap akan bergantung pada kondisi pasar secara keseluruhan, termasuk arus dana asing, suku bunga global, hingga kinerja industri perbankan nasional.

Saat ini, investor masih menanti apakah aksi buyback mampu menjadi titik balik pergerakan saham BBCA setelah mengalami tekanan panjang dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, fundamental BCA yang relatif solid membuat saham ini masih menjadi salah satu emiten perbankan yang terus dipantau pelaku pasar.


Berita Terkait


News Update