Oleh :Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Duka mendalam begitu terasa menyusul peristiwa tragis, di mana Commuter Line alias KRL ditabrak kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek dari belakang selagi berhenti, di peron Stasiun Bekasi Timur.
Diberitakan sementara, tercatat 14 orang meninggal dunia, 84 penumpang lainnya luka – luka masih dalam perawatan di berbagai fasilitas kesehatan.
Jika diurut, penyebab kejadian ini bukan sebatas kereta tabrak kereta, tetapi imbas dari kecelakaan sebidang yang melibatkan sebuah taksi dan KRL perlintasan kereta api.
Insiden ini membutuhkan penanganan lebih lanjut, di antaranya penghentian sementara perjalanan KRL lainnya guna keperluan evakuasi hingga tertabrak kereta api cepat.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Tak Lagi Cash And Carry
Itu kronologi awal sebagaimana dijelaskan Kementerian Perhubungan. Pengusutan lebih lanjut atas insiden yang merenggut banyak korban jiwa ini, ditangani pula oleh KNKT ( Komite Nasional Keselamatan Transportasi).
“Semoga KNKT dapat menguak benang merah insiden ini secara objektif dan transparan. Dapat menguak fakta yang sebenarnya sebagai kajian dalam merumuskan keselamatan dan keamanan penumpang kereta api, utamanya KRL,”ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Betul, KRL adalah transportasi publik yang sangat diminati masyarakat,utamanya di Jabodetabek dalam beraktivitas sehari- hari, tak hanya berangkat dan pulang kerja, juga kegiatan sosial ekonomi masyarakat,” tambah Yudi.
“Cukup beralasan jika berbagai pihak meminta agar keselamatan penumpang KRL menjadi prioritas yang utama,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Jangan Cuma Lihat Covernya
“Tak kurang Ketua DPR, Puan Maharani meminta pemerintah, KAI bersama stakeholder terkait untuk lebih memprioritaskan persoalan keselamatan di jalur kereta api. Sistem dan keamanan pada jalur kereta api harus diperbaiki. Itu yang diminta Ketua DPR,” kata Yudi.
“Selain menyisakan luka mendalam, insiden di Bekasi Timur, Senin malam, 27 April 2026, membuka wacana perlunya prioritas keselamatan penumpang perempuan di KRl,” kata Heri.
“Ini dapat dipahami karena semua korban,termasuk yang meninggal dunia adalah perempuan, mengingat gerbong paling belakang, khusus penumpang perempuan yang ditabrak KA Argo Bromo,” jelas Yudi.
“Mencuat wacana, gerbong khusus perempuan sebaiknya ditempatkan di bagian tengah, jangan paling belakang atau paling depan. Ini demi menjamin keamanan dan keselamatan penumpang perempuan, jika terjadi benturan,” urai mas Bro.
“Usulan tersebut dapat dipahami karena jika bicara kereta seruduk kereta atau KRL tertemper mobil di perlintasan, bukan kali ini saja terjadi. Baik yang hanya menimbulkan goncangan, korban luka - luka maupun meninggal dunia. Penyebabnya beragam, terlebih masih banyak perlintasan tanpa palang pintu,”urai Heri.