Opini Ekonomika Pancasila oleh Prof. Yudhie Haryono, Ph.D (Sumber: Dok. Poskota)

SERBA-SERBI

Ekonomika Pancasila: Neoliberalisme Itu Pagebluk

Rabu 29 Apr 2026, 06:22 WIB

POSKOTA.CO.ID - Sungguh. Tak perlu disangkal. Kini, hari libur itu waktu terbaik membaca dan meresensi buku. Terlebih buku keren tentang mazhab neoliberal. Pemikiran pasar bebas. Agama ketamakan.

Ya. Neoliberalisme adalah terminologi yang datang tanpa diundang, hinggap tak mau pergi, hidup terus menggerogoti dan diimani (ekonom istana) tanpa kritik.

Padahal, ia penyakit paling berbahaya, brutal dan tak bisa diobati. Akibatnya jelas: warga-negara miskin, bodoh, terbelah, sakit, nganggur dan terjebak utang hingga tak berdaulat.

Ia meneror, ia pagebluk, ia mengintimidasi, ia memabukkan dan bak heroin: membuat penikmatnya sakaw dan berilusi bahagia sejahtera plus beradab.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Swastanisasi Negara Kita

Karena hipotesa di atas, kita harus membuat diagnosa dan obatnya. Lahirlah buku yang menghadirkan gambar utuh tentang operasi neoliberalisme-dari kebijakan efisiensi negara, institutionalisasi demokrasi liberal yang menguntungkan elite, peran aktor global, hingga penundukan gerakan masyarakat sipil.

Pendekatan komparatif dengan pengalaman negara lain, memperkaya imajinasi dan pengetahuan pembaca, akan alternatif pembangunan di luar ideologi neoliberalisme.

Buku berjudul neoliberalisme ini terdiri dari sebelas bab dan 3 narasi besar: teori, kritik dan alternatif, buku ini cukup komprehensif. Tentu karena penulisnya sudah lama berkecimpung dalam teori-teori tersebut dan memipin lembaga yang konsen dalam studi neoliberalisme.

Secara sederhana, gerak neoliberalisme di republik ini menghasilkan potret buram riil. Misalnya: kesenjangan dan ketimpangan. Keadaan ekonomi antara kaya dan miskin, karena kebijakan deregulasi dan privatisasi yang menguntungkan kalangan elit dan korporasi makin menjadi-jadi. Timpang memanjang. Senjang merenggang.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Menikam Mati Kemelaratan Akut

Kedua, neoliberalisme  terlalu bergantung pada mekanisme pasar. Ini menyebabkan ketidakstabilan ekonomi dan meningkatkan risiko krisis. Itu berulang-ulang. Tiap tahun.

Ketiga, neoliberalisme mendefisitkan peran negara dalam mengatur ekonomi. Akibatnya terjadi kegagalan pasar dan meningkatkan ketidakadilan sosial. Melahirkan kerusuhan dan revolusi sosial.

Keempat, neoliberalisme mendorong eksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dan hak-hak masyarakat lokal. Rakus tak bertepi. Greedy sampai mati.

Kelima, neoliberalisme mengurangi perlindungan sosial dan meningkatkan ketidakpastian bagi pekerja dan rakyat miskin. Banjir pengangguran.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Ekonomi Tumbuh tapi Tak Merata

Keenam, neoliberalisme diimplementasikan secara tidak adil, dengan mengabaikan kepentingan umum sambil mengutamakan kepentingan korporasi dan elit-silit.

Alhasil, ini menjadi buku yang sangat penting dibaca, diresapi, dipahami, diapresiasi oleh khalayak umum, akademisi, aktivis, dan rakyat kebanyakan. Juga harus menjadi inspirasi bagi pejabat publik. Tentu agar kita selamat dari amoknya dalam bernegara dan bersemesta. Semoga.

Tulisan opini Ekonomika Pancasila ini ditulis oleh CEO Nusantara Centre Yudhie Haryono.

Tags:
keadilan sosialkrisisopini Neoliberalismeekonomika pancasila

Tim Poskota

Reporter

Muhammad Faiz Sultan

Editor