Di sejumlah negara, ikan sapu-sapu diketahui telah dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak melalui proses pemanasan tinggi dan pengolahan menjadi tepung.
Namun, metode tersebut belum diterapkan secara luas karena tingginya kandungan logam dalam tubuh ikan.
“Di negara dengan kualitas air lebih baik saja, kandungan logamnya sudah cukup tinggi dan masih dalam pengawasan ketat,” ujar Pramono.
Untuk kondisi di Jakarta, hasil pengujian menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu memiliki kandungan residu logam yang melebihi ambang batas aman.
Hal ini membuat ikan tersebut berpotensi berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia maupun hewan.
“Maka dari itu, kami akan melakukan upaya maksimal untuk mengurangi populasinya. Jika dibiarkan, dominasi ikan ini akan kembali meningkat dalam waktu singkat,” tegasnya. (cr-4).
