Selain itu, ikan ini memiliki sirip punggung dengan jumlah 9 hingga 14 jari-jari, serta sirip dada yang dilengkapi duri kecil. Ukuran tubuhnya dapat mencapai 40 cm, bahkan bisa tumbuh hingga 35 cm hanya dalam waktu dua tahun.
Baca Juga: Wamendagri Ribka Haluk Apresiasi Penguatan Tata Kelola Pelayanan RSUD Wilayah Jayapura
Jenis Ikan Sapu-Sapu dan Penyebarannya di Indonesia
Di Indonesia, ikan sapu-sapu awalnya masuk sebagai ikan hias akuarium. Namun, pelepasan ke alam bebas membuat populasinya berkembang pesat tanpa kontrol.
Berdasarkan data dari Badan Karantina Indonesia, ikan ini kini menjadi salah satu spesies yang banyak ditemukan di perairan Indonesia, terutama dari genus Pterygoplichthys.
Dalam klasifikasi ilmiah, ikan sapu-sapu termasuk dalam Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Pisces, Ordo Siluridea, dan Famili Loricariidae. Beberapa genus yang umum dikenal antara lain Hypostomus, Hyposarcus, dan Pterygoplichthys.
Sementara itu, spesies yang paling sering ditemukan di Indonesia meliputi Pterygoplichthys pardalis dan Pterygoplichthys disjunctivus.
Genus Pterygoplichthys sendiri menjadi yang paling dominan dengan puluhan spesies yang telah teridentifikasi di berbagai wilayah perairan Indonesia.
Baca Juga: Hanya Disidang Etik, Kasus Dugaan Rudapaksa oleh Oknum Polisi Tuai Kemarahan Publik
Dampak dan Alasan Penyebaran Sulit Dikendalikan
Pesatnya penyebaran ikan sapu-sapu tidak lepas dari kemampuan adaptasinya yang tinggi. Ikan ini mampu hidup di berbagai kondisi perairan, mulai dari sungai bersih hingga perairan tercemar dengan oksigen rendah.
Selain itu, sifatnya sebagai omnivora oportunistik membuatnya dapat memakan berbagai jenis makanan, mulai dari alga, telur ikan lain, hingga organisme kecil yang penting dalam rantai makanan.
Kondisi ini berdampak langsung pada ikan lokal yang kesulitan mendapatkan makanan dan terganggu proses reproduksinya. Dalam sekali berkembang biak, ikan sapu-sapu mampu menghasilkan ratusan telur yang dijaga hingga menetas.
Tak hanya itu, kebiasaan menggali sarang di dasar dan tepi sungai juga berpotensi merusak struktur tanah dan mempercepat erosi. Ditambah dengan tubuhnya yang keras dan adanya duri tajam, ikan ini juga sulit dimangsa oleh predator lokal.
