Modus phishing masih menjadi salah satu metode favorit pelaku kejahatan siber, namun kini targetnya mulai bergeser.
Halaman palsu yang meniru situs e-commerce kini mendominasi serangan phishing finansial dengan pangsa mencapai 48,5 persen, meningkat 10,3 persen dibandingkan 2024.
Sebaliknya, phishing yang secara khusus menyasar layanan perbankan justru menurun tajam menjadi 26,1 persen atau turun 16,5 persen.
Penurunan ini mengindikasikan bahwa sistem keamanan perbankan semakin sulit untuk dipalsukan, sehingga pelaku beralih ke celah yang lebih mudah dimanfaatkan, terutama melalui transaksi belanja online.
Baca Juga: Cari HP Kamera Jernih? Ini 5 HP OPPO Terbaik 2026 dengan Hasil Foto Super Tajam
Pola serangan juga berbeda di setiap kawasan. Timur Tengah mencatat dominasi phishing e-commerce hingga 85,8 persen, sementara Afrika masih didominasi serangan berbasis akun perbankan sebesar 53,75 persen. Asia Pasifik dan Eropa menunjukkan distribusi ancaman yang relatif lebih merata.
Ancaman Berkelanjutan di Dark Web
Temuan paling mengkhawatirkan datang dari aktivitas di dark web.
Tim Kaspersky DFI menemukan bahwa 74 persen kartu pembayaran yang dicuri melalui infostealer pada 2025 masih berstatus valid hingga Maret 2026. Artinya, data kartu yang dicuri berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lalu masih berpotensi disalahgunakan kapan saja.
Analis Kaspersky Digital Footprint Intelligence, Polina Tretyak, menjelaskan bahwa dark web kini telah berkembang menjadi pusat utama operasi kejahatan siber finansial.
Menurutnya, kredensial perbankan dan data kartu yang dicuri dikumpulkan, dikemas ulang, lalu dijual secara sistematis. Bahkan perangkat phishing kini ditawarkan sebagai layanan siap pakai yang memudahkan pelaku baru untuk menjalankan aksi penipuan.
Baca Juga: 3 Aplikasi Maps Online Gratis dan Akurat untuk Pantau Macet Mudik Lebaran 2026
Kondisi ini menciptakan ekosistem kejahatan digital yang terus berputar dan semakin mudah diskalakan.
