POSKOTA.CO.ID - Ancaman kejahatan siber di sektor finansial global kini memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan.
Laporan terbaru dari Kaspersky mengungkap lebih dari satu juta rekening perbankan online di berbagai negara berhasil diretas sepanjang 2025.
Fenomena ini menandai perubahan besar dalam pola serangan siber. Para pelaku kini tidak lagi bergantung pada malware perbankan konvensional yang menyerang komputer pribadi, melainkan beralih ke metode yang lebih modern seperti pencurian kredensial, rekayasa sosial, hingga pemanfaatan pasar gelap digital atau dark web.
Data dari Kaspersky Digital Footprint Intelligence (DFI) menunjukkan akun-akun yang diretas berasal dari 100 bank terbesar di dunia. Informasi login tersebut kemudian diperjualbelikan secara bebas di dark web, membuka peluang penyalahgunaan yang lebih luas. Negara dengan jumlah akun yang paling banyak terdampak dipimpin oleh India, diikuti Spanyol dan Brasil.
Baca Juga: iPhone 18 Pro Makin Gila? Ini 13 Bocoran Terbaru yang Bikin Heboh
Infostealer dan Evolusi Malware Seluler

Salah satu ancaman terbesar saat ini datang dari infostealer, yaitu perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk mencuri data sensitif pengguna.
Jenis malware ini mampu mengambil username dan password, cookie browser, nomor kartu perbankan, frasa pemulihan aset kripto, hingga data autofill yang tersimpan di perangkat pengguna.
Data curian tersebut kemudian digunakan peretas untuk mengambil alih akun korban secara langsung atau dijual kepada pihak lain di dark web.
Sepanjang periode 2024 hingga 2025, deteksi infostealer pada komputer pribadi meningkat sebesar 59 persen secara global. Kawasan Asia Pasifik bahkan mencatat lonjakan tertinggi hingga 132 persen, menunjukkan eskalasi ancaman yang sangat signifikan.
Baca Juga: Rekomendasi Hp Bekas 1 Jutaan Terbaik untuk Ojol April 2026, Tahan Banting dan Anti Lemot!
Di sisi lain, serangan malware perbankan di perangkat seluler juga mengalami peningkatan drastis. Seiring meningkatnya penggunaan smartphone untuk transaksi keuangan, jumlah serangan tercatat naik hingga 1,5 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
