JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Anggota DPRD DKI Jakarta sekaligus Ketua Bamus Betawi, Riano P Ahmad, menegaskan bahwa perayaan Lebaran Betawi merupakan agenda rutin yang memiliki makna penting dalam menjaga tradisi dan memperkuat identitas budaya masyarakat Betawi di Jakarta.
Menurut Riano, kegiatan Lebaran Betawi tidak hanya sekadar seremoni tahunan, melainkan menjadi ruang silaturahmi sekaligus wujud kearifan lokal masyarakat Betawi setelah menjalankan ibadah puasa dan merayakan Idulfitri.
“Lebaran Betawi merupakan agenda kegiatan rutin pemerintah daerah bersama masyarakat Betawi, dalam hal ini Bamus Betawi dan Majelis Kaum Betawi. Ini adalah Lebaran Betawi yang ke-18. Tentunya dalam setiap kegiatan Lebaran Betawi itu, yang pertama adalah silaturahmi, kearifan lokal dari masyarakat Betawi ketika setelah berpuasa, berlebaran, dan juga melakukan hantaran,” ujar Riano kepada Poskota, Sabtu, 11 April 2026.
Ia menjelaskan, salah satu tradisi utama dalam Lebaran Betawi adalah hantaran atau nyorog, yakni pemberian bingkisan dari anak kepada orang tua sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang.
Baca Juga: Lebaran Betawi Akan Digelar Rutin Tiap Tahun, Pramono Pertimbangkan Waktu di Sore Hari
Tradisi ini, kata dia, juga memiliki makna simbolis dalam kehidupan sosial masyarakat Betawi.
“Tradisi utama Lebaran Betawi itu hantaran atau nyorog, memberikan hantaran dari anak kepada orang tuanya, seperti dari Walikota kepada Gubernurnya. Itu adalah acara tradisi utamanya, dan juga di samping itu menampilkan atraksi-atraksi budaya, lalu juga menyajikan acara kuliner, dan juga acara-acara lain yang tidak kalah menarik,” ungkap Riano.
Lebih lanjut, Riano memandang bahwa keberadaan Lebaran Betawi juga memiliki peran strategis dalam mendukung Jakarta menuju kota global.
Ia menyinggung amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 yang menegaskan bahwa budaya Betawi merupakan budaya utama di Jakarta, berdampingan dengan budaya lainnya.
“Ya, seperti amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 bahwa budaya utama Kota Jakarta adalah budaya Betawi dan budaya-budaya lainnya. Menuju kota global, salah satu credit point atau kriteria menuju kota global adalah identitas budaya," ucap Riano
