“Mending kita beli rumah di kampung selagi masih terjangkau, sebelum dilirik para pemodal,” kata Yudi.
“Usulan bagus juga. Yang jadi soal, dana untuk membeli yang tidak mencukupi, untuk kebutuhan sehari-hari saja kembang kempis,” ujar Heri.
“Oh iya, lupa kita-kita ini tergolong rakyat kecil, masyarakat berpenghasilan rendah yang masih perlu subsidi pemerintah. Tak hanya kepemilikan rumah, juga yang lain-lain. Karena itu begitu ada isu harga BBM akan naik, kita sudah ketar-ketir, bagaimana menambal kekurangan,” jelas Yudi.
“Masyarakat berpenghasilan rendah seperti kita ini jumlahnya puluhan juta orang.Boleh jadi sebagian besar pula belum memiliki rumah sendiri. Kalau pun punya, mungkin saja kurang layak huni dari aspek lingkungan dan kesehatan,” urai mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Mantap, BBM Bersubsidi Tidak Naik Nonsubsidi Lagi Dikaji
“Itulah sebabnya, pemerintah memprioritaskan program pembangunan 3 juta rumah guna menyediakan hunian bagi masyarakat, utamanya berpenghasilan rendah dan nanggung,” kata Heri.
“Memanfaatkan lahan negara di sekitar stasiun kereta api guna pembangunan perumahan, diperlukan untuk mempercepat pengadaan hunian layak bagi masyarakat di kota-kota besar. Selain layak, juga memudahkan aktivitas masyarakat dalam bekerja,” urai mas Bro.
