“Dalam konteks public health, ini biasanya melibatkan kegagalan Hazard Analysis Critical Control Point, akibat tidak ada identifikasi titik kritis pada proses masak, penyimpanan maupun distribusi, termasuk juga buruknya kualitas food handler yang tidak terlatih higiene sanitasi dan tidak ada skrining kesehatan,” ucap Dicky.
Ia juga menyinggung tantangan besar dalam skala distribusi program MBG yang dinilai sudah masuk tahap masalah, terutama dalam produksi massal dan distribusi ke banyak titik. Kelemahan dalam sistem rantai dingin (cold chain) disebutnya sebagai salah satu titik rawan yang kerap terabaikan.
“Dalam skala distribusi MBG, kita melihat ini sudah jadi masalah, bukan sekadar tantangan. Produksi massal, distribusi ke banyak titik, dan kelemahan dalam cold chain logistik sudah banyak terbukti,” ungkap Dicky.
Baca Juga: Eks TPS Rusunawa PIK II Penggilingan Disulap Jadi Taman Hijau, Warga Diminta Ikut Jaga Kebersihan
Meski sebagian besar kasus keracunan makanan bersifat self-limiting atau dapat sembuh dengan sendirinya, ia mengingatkan bahwa risiko tetap tinggi, terutama bagi anak-anak sebagai kelompok rentan. Selain itu, kejadian berulang juga berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG.
“Ini memang bisa sembuh dengan sendirinya, tapi tetap berisiko, terutama pada anak-anak. Dan ini berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap program MBG yang semakin menurun, sehingga efektivitas program juga bisa terganggu,” jelasnya.
Dicky menegaskan, insiden seperti ini tidak boleh diabaikan dan harus ditindaklanjuti dengan investigasi menyeluruh, termasuk audit sistem dan perbaikan total dalam tata kelola keamanan pangan.
“Harus ada investigasi menyeluruh dan lengkap, termasuk audit sistem dan perbaikan. Ini yang masih jadi PR dan terkesan terabaikan,” kata Dicky. (cr-4)
