Epidemiolog Soroti Keracunan 72 Siswa MBG di Duren Sawit, Diduga KLB Pangan Akibat Kegagalan Sistem

Minggu 05 Apr 2026, 21:54 WIB
Ilustrasi, Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: Dok. BGN)

Ilustrasi, Makan Bergizi Gratis (MBG). (Sumber: Dok. BGN)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Kasus keracunan makanan yang menimpa 72 siswa di kawasan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat sorotan dari kalangan ahli kesehatan masyarakat. 

Epidemiolog sekaligus pengamat kebijakan kesehatan dari Griffith University dan YARSI, Dicky Budiman, menilai kejadian tersebut sangat kuat mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan.

Menurut Dicky, pola kejadian yang menimpa puluhan siswa dalam waktu singkat dengan sumber makanan yang sama serta lokasi yang terbatas menjadi indikator kuat adanya satu titik kegagalan dalam rantai keamanan pangan. Ia menegaskan bahwa kasus ini tidak bisa dianggap sebagai insiden biasa.

“Dengan adanya 72 siswa keracunan MBG atau spageti ini, ini sangat kuat mengarah pada KLB keracunan pangan. Apalagi kalau dari sisi epidemiologi, korbannya dalam waktu singkat, sumber makanannya sama, lokasinya juga terbatas di sekolah. Jadi ini jelas point of source-nya dan artinya ada satu titik kegagalan dalam rantai keamanan pangannya,” ujar Dicky kepada Poskota, Minggu, 5 April 2026.

Baca Juga: 72 Siswa Keracunan MBG di Duren Sawit, DPRD DKI Desak Pengawasan SPPG Diperketat

Ia menjelaskan, dugaan penyebab paling rasional berkaitan dengan kontaminasi bakteri penghasil toksin, seperti staphylococcal food poisoning, yang umumnya berasal dari tangan penjamah makanan. Selain itu, bakteri Bacillus cereus juga berpotensi menjadi penyebab, terutama pada makanan berbasis pasta seperti spageti.

“Kemungkinan dari kontaminasi tangan penjamah makanan dan juga toksin tahan panas, walau dipanaskan berulang tetap berbahaya. Atau bisa juga karena Bacillus cereus infection yang sering terjadi pada makanan seperti pasta, apalagi jika dimasak lalu didiamkan terlalu lama di suhu ruang dan kemudian dipanaskan ulang,” jelas Dicky.

Dicky juga menyoroti kemungkinan kesalahan dalam manajemen suhu makanan sebagai faktor utama. Ia menegaskan bahwa makanan seharusnya dijaga pada suhu aman, baik dalam kondisi panas maupun dingin, untuk mencegah pertumbuhan bakteri berbahaya.

“Bisa juga karena kesalahan manajemen suhu, makanan tidak disimpan di atas 60 derajat Celsius untuk hot holding atau di bawah 5 derajat Celsius pada cold chain. Ini faktor yang paling sering dalam outbreak makanan massal,” kata Dicky.

Baca Juga: Bongkar Penjualan Obat Ilegal di Tangerang, Polisi Ciduk Dua Pelaku

Lebih lanjut, ia menilai kejadian ini tidak bisa hanya disalahkan pada individu semata, melainkan menunjukkan adanya kegagalan sistemik dalam pengelolaan keamanan pangan. Salah satu yang disoroti adalah tidak optimalnya penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dalam proses produksi hingga distribusi makanan.

“Dalam konteks public health, ini biasanya melibatkan kegagalan Hazard Analysis Critical Control Point, akibat tidak ada identifikasi titik kritis pada proses masak, penyimpanan maupun distribusi, termasuk juga buruknya kualitas food handler yang tidak terlatih higiene sanitasi dan tidak ada skrining kesehatan,” ucap Dicky.

Ia juga menyinggung tantangan besar dalam skala distribusi program MBG yang dinilai sudah masuk tahap masalah, terutama dalam produksi massal dan distribusi ke banyak titik. Kelemahan dalam sistem rantai dingin (cold chain) disebutnya sebagai salah satu titik rawan yang kerap terabaikan.

“Dalam skala distribusi MBG, kita melihat ini sudah jadi masalah, bukan sekadar tantangan. Produksi massal, distribusi ke banyak titik, dan kelemahan dalam cold chain logistik sudah banyak terbukti,” ungkap Dicky.

Baca Juga: Eks TPS Rusunawa PIK II Penggilingan Disulap Jadi Taman Hijau, Warga Diminta Ikut Jaga Kebersihan

Meski sebagian besar kasus keracunan makanan bersifat self-limiting atau dapat sembuh dengan sendirinya, ia mengingatkan bahwa risiko tetap tinggi, terutama bagi anak-anak sebagai kelompok rentan. Selain itu, kejadian berulang juga berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG.

“Ini memang bisa sembuh dengan sendirinya, tapi tetap berisiko, terutama pada anak-anak. Dan ini berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap program MBG yang semakin menurun, sehingga efektivitas program juga bisa terganggu,” jelasnya.

Dicky menegaskan, insiden seperti ini tidak boleh diabaikan dan harus ditindaklanjuti dengan investigasi menyeluruh, termasuk audit sistem dan perbaikan total dalam tata kelola keamanan pangan.

“Harus ada investigasi menyeluruh dan lengkap, termasuk audit sistem dan perbaikan. Ini yang masih jadi PR dan terkesan terabaikan,” kata Dicky. (cr-4)


Berita Terkait


News Update