Pemerintah Tahan Harga BBM, Menkeu Purbaya Ungkap Risiko Anggaran Negara yang Kian Berat

Kamis 02 Apr 2026, 17:30 WIB
Kebijakan menahan harga BBM berdampak besar pada APBN. Subsidi energi diprediksi melonjak hingga Rp100 triliun akibat tekanan harga minyak global. (Sumber: Dok/Kementrian Keuangan)

Kebijakan menahan harga BBM berdampak besar pada APBN. Subsidi energi diprediksi melonjak hingga Rp100 triliun akibat tekanan harga minyak global. (Sumber: Dok/Kementrian Keuangan)

Untuk menutup potensi defisit akibat subsidi yang membengkak, pemerintah menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya adalah refocusing atau pengalihan anggaran dari pos belanja yang dinilai kurang prioritas.

Pemerintah sebelumnya memperkirakan dana hasil refocusing bisa mencapai Rp121,2 hingga Rp130,2 triliun. Selain itu, opsi penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) juga disiapkan sebagai bantalan terakhir. “Kalau memang terpaksa, kita masih punya SAL sekitar Rp420 triliun,” jelasnya.

Baca Juga: THR Swasta Dipotong Pajak, Menkeu Purbaya: Kalau Keberatan, Protes ke Bos

Dilema Menjaga Stabilitas dan Kesehatan Fiskal

Meski demikian, langkah ini tetap menjadi dilema. Di satu sisi, menjaga harga BBM tetap stabil penting untuk menahan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.

Namun di sisi lain, beban fiskal yang semakin berat berpotensi mengganggu keseimbangan APBN ke depan. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa kebijakan energi tidak bisa dilepaskan dari dinamika global dan kesehatan fiskal nasional.


Berita Terkait


News Update