POSKOTA.CO.ID - Nama selebgram Tri Indah R atau yang akrab disapa Keyndah tengah menjadi perbincangan hangat publik.
Hal ini terjadi setelah dirinya dikaitkan dengan isu keretakan rumah tangga Clara Shinta.
Keyndah disebut sebagai perempuan yang diduga terlibat dalam aktivitas video call seks (VCS) dengan suami Clara Shinta, Muhammad Alexander Assad.
Dugaan tersebut pun dengan cepat menyebar luas di media sosial dan memicu beragam reaksi dari warganet.
Baca Juga: Istilah Furab Heboh di Media Sosial, Ini Kronologi Awal Penjodohan Fuji dan Reza Arap
Kondisi Keyndah Dikabarkan Memburuk

Di tengah derasnya sorotan publik, beredar video yang memperlihatkan kondisi Keyndah yang tampak lemah hingga tak sadarkan diri.
Kabar ini semakin menguatkan dugaan bahwa tekanan akibat isu viral tersebut berdampak besar pada kondisi fisik dan mentalnya.
Informasi terkait kondisi terkini Keyndah disampaikan oleh sahabatnya, Hengky Pranandho, melalui unggahan di Instagram Story.
Dalam video yang dibagikan, Keyndah terlihat dalam kondisi sangat lemah dan membutuhkan penanganan.
“Terima kasih untuk yang sudah mendoakan. Itu sangat berarti buat Key di kondisi sekarang. Dia sedang berusaha memulihkan mental dan psikisnya,” tulis Hengky.
Sahabat Ungkap Keyndah Sempat Histeris
Hengky juga mengungkapkan bahwa saat ia bersama beberapa teman menjenguk Keyndah, kondisi sang selebgram sangat terpukul hingga mengalami histeria.
Menurutnya, tekanan dari komentar negatif dan sorotan publik menjadi faktor yang memperburuk kondisi Keyndah. Ia pun berharap masyarakat bisa lebih bijak dalam memberikan komentar di media sosial.
“Kemarin kami datang, dia histeris dan kondisinya sangat drop. Kami berharap netizen masih punya empati dalam berkomentar,” ujarnya.
Keluarga Ikut Terdampak
Tak hanya Keyndah, dampak dari kasus yang viral ini juga dirasakan oleh pihak keluarga. Hengky menyebut bahwa orang tua Keyndah turut terpukul melihat kondisi sang anak yang menurun drastis.
Baca Juga: Emy Aghnia Keturunan Apa? Sosok Selebgram yang Disorot Usai Konten Video Vidi Buat Jualan
Ia menegaskan bahwa sebagai teman, mereka tidak membenarkan kesalahan yang terjadi. Namun, sisi kemanusiaan tetap harus dikedepankan, terutama dalam situasi sulit seperti ini.
“Kami tidak membela yang salah, tapi ini soal empati. Orang tuanya juga ikut terpukul. Tolong jaga cara menyampaikan pendapat,” tutupnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa dampak dari viralnya sebuah isu di media sosial tidak hanya berhenti pada opini publik, tetapi juga bisa berpengaruh besar terhadap kondisi mental individu yang terlibat.
