Meski berfokus pada penghematan energi, pemerintah menegaskan kebijakan WFH tidak boleh dilihat secara sempit. Dalam praktiknya, kebijakan ini juga diyakini dapat menggerakkan sektor ekonomi lain, terutama konsumsi rumah tangga dan bisnis digital.
Pemerintah pun berupaya memastikan kebijakan ini tetap menjaga produktivitas kerja. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penerapan WFH atau peliburan pada hari dengan dampak paling kecil terhadap kinerja.
“Kalau diliburkan, dipilih yang dampaknya paling kecil ke produktivitas. Jumat, misalnya, jam kerjanya lebih pendek,” kata Purbaya.
Baca Juga: DPR Tolak Rencana Sekolah Daring 2026 Demi Hemat BBM, Risiko Learning Loss dan Psikologis Siswa
IESR: WFH Satu Hari Efektif Kurangi Konsumsi BBM
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR). Lembaga tersebut menilai kebijakan WFH satu hari dalam sepekan cukup efektif untuk menekan konsumsi BBM, terutama di wilayah perkotaan.
Chief Executive Officer (CEO) IESR Fabby Tumiwa mengatakan langkah ini relevan di tengah tekanan harga energi global dan potensi gangguan pasokan. “WFH satu hari merupakan langkah darurat yang tepat untuk menahan permintaan BBM,” ujar Fabby dalam keterangan resminya.
Menurutnya, kebijakan tersebut mampu mengurangi perjalanan komuter dan memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan energi serta ekspektasi publik.
Dengan pendekatan yang tepat, pemerintah berharap kebijakan WFH tidak hanya mampu menghemat energi, tetapi juga tetap menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.
