Proses itu juga sangat sistematis karena langgamnya punya pasukan, barisan dan keteraturan yang solid, utuh, terpadu, saling terkait (menguatkan-melindungi) dari gabungan sejumlah komponen, pola, atau unsur yang saling mendukung dalam membentuk keutuhan sempurna sehingga sangat kuat dan tertradisi menjadi "kebenaran."
Proses itu disempurnakan dengan sebesar dan sekuatnya menjadi masif. Di sini artinya gerakan yang kokoh, berjumlah banyak/besar, dan super padat sehingga seluruh komponen atau unsur di dalamnya tidak keropos, berongga, rapuh dan tidak tak terbunuh.
Akibatnya tak banyak yang tahu bahwa perang dagang pasti ujung tombaknya adalah perang mata uang. Bahkan perang kedaulatan itu sesungguhnya perang mata uang. Jika mata uang suatu negara kuat, maka kuatlah kedaulatan negara tersebut dan bahkan bisa menjajah negara lain. Demikian pula sebaliknya.
Sesungguhnya, perang mata uang adalah perang ekonomi sekaligus perang dagang dunia. Fakta bahwa ini adalah perang terlihat dari persaingan negara imperial (penjajah-perampok) melemahkan nilai mata uangnya ke level terendah lalu menaikkannya pada top level. Hal ini dilakukan agar produk-produk yang mereka hasilkan bisa laku dan terjual di negara lain. Dalam sejarah dunia, perang mata uang ini sudah sering terjadi sejak 100 tahun lalu.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Dalam Penyembahan Ekonomi Global
Tentu saja, negara dengan ekonomi-industri yang kuat akan kuat uangnya sehingga mampu menegaskan kedaulatannya dan memiliki kekuatan untuk memaksakan hegemoni dan pengaruhnya. Negara kuat pasti dinahkodai oleh pemimpin yang kuat, ekonom yang jenius dan elite yang paham geo-ekopolitik dunia.
Sebaliknya, saat negara diisi oleh pemimpin lemah dan bodoh, semua masa depannya diserahkan ke pasar. Lalu, nilai tukar uangnya dibuat mengambang karena ditentukan oleh pasar. Padahal, bank sentral dan kementrian keuangan bisa kolaboratif merekayasa mata uangnya menjadi alat yang "mengkayakan" sekaligus "mendaulatkan" negaranya.
Dus, untuk melihat kedaulatan sebuah negara, bisa dilihat pada kemampuan elitenya meletakkan uangnya sebagai apa: sekedar alat tukar atau alat pendaulat. Cermati, jika ekspornya menjadi lebih mahal, dan impornya menjadi lebih murah, berarti mereka kalah. Cepat ganti dengan yang lebih jenius dan patriotis. Itu saja.
