“Menjadi aneh, jika membangun pencitraan penuh dengan kepalsuan. Atraksi politik yang dipertontonkan di depan publik, hanyalah, tipuan, kamuflase belaka,” kata mas Bro.
“Tapi tak semua pejabat seperti itu, Bro,” protes Yudi.
“Sangat setuju. Kepala daerah jumlahnya ratusan, pejabat ribuan, puluhan ribu di semua tingkatan. Tapi gara-gara segelintir oknum terjerat korupsi,lainnya ikut tercoreng. Ibarat pepatah: nila setitik, rusak susu sebelanga,” urai mas Bro.
“Kasihan ya,pejabat yang bersusah payah membangun kepercayaan masyarakat, dengan tulus ikhlas turun ke bawah, menyambangi warganya menyerap aspirasi, mencarikan solusi, bisa dinilai lain, mencari panggung pujian,” jelas Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Masjid Tempat Singgah Para Pemudik
“Pujian tak perlu dicari. Pujian akan datang sendiri setelah terukir prestasi. Masyarakat semakin cerdas menilai pejabat yang sarat dengan aksi, tapi minim prestasi.Mengumbar janji,tapi sudah setahun belum juga terpenuhi,” kata Yudi.
“Apa perlu kita-kita ini juga bikin yang aneh-aneh untuk menarik perhatian,” tanya Heri.
“Selain tak punya modal untuk bikin yang aneh-aneh, kita jalani saja apa adanya, Nggak perlu yang aneh-aneh,” kata mas Bro mengakhiri obrolan warteg.
