Infrastruktur menjadi poin krusial di Indonesia. Hingga awal 2026, PLN telah mengoperasikan lebih dari 5.000 unit SPKLU tersebar di ribuan lokasi, termasuk peningkatan signifikan di jalur Trans-Jawa, rest area tol, dan kota-kota besar.
Beberapa rute mudik utama kini lebih ramah EV berkat ultra fast charging.
Namun, di wilayah pelosok, pegunungan, atau pedesaan, SPKLU masih jarang. Pengisian daya fast charging memakan waktu 30 menit–2 jam, sementara pengisian bensin hanya 3–5 menit di SPBU yang tersebar luas.
Pemenang: Mobil bensin untuk kemudahan dan kecepatan isi ulang, terutama di rute minim fasilitas.
Baca Juga: 7 Tips Membeli Mobil Bekas untuk Mudik Lebaran 2026, Jangan sampai Salah Pilih!
- Biaya Operasional Selama Perjalanan
Mobil listrik unggul telak di aspek ini. Pengisian di SPKLU atau home charging (dengan subsidi malam hari) bisa hanya Rp50.000–Rp100.000 untuk jarak 300–400 km, atau bahkan lebih murah (Rp200–Rp370 per km).
Bandingkan dengan mobil bensin yang menghabiskan Rp500.000 lebih untuk perjalanan serupa akibat harga BBM.
Pemenang: Mobil listrik untuk penghematan signifikan jangka panjang.
- Performa, Kenyamanan, dan Pengalaman Berkendara
Mobil listrik menawarkan akselerasi instan, kabin super senyap (ideal untuk istirahat penumpang), serta minim getaran.
Namun, di tanjakan curam atau medan berat, mobil bensin sering terasa lebih tangguh dengan torsi mesin konvensional.
Keduanya nyaman, tapi preferensi pribadi berperan besar senyap vs suara mesin klasik.
Mobil Listrik dan Bensin Saat Dipakai Jalan Jauh, Mana Lebih Baik?
Untuk kondisi Indonesia saat ini (2026), mobil bensin masih menjadi pilihan paling aman dan praktis bagi perjalanan jauh, khususnya ke daerah terpencil tanpa SPKLU memadai, touring pegunungan, atau situasi darurat.
