Maksiat di malam Lailatul Qadar, apakah dosanya Dilipatgandakan? (Sumber: YouTube/Buya Yahya)

RAMADHAN

Maksiat di Malam Lailatul Qadar, Apakah Dosanya Setara Seribu Bulan? Ini Kata Buya Yahya

Kamis 12 Mar 2026, 04:15 WIB

POSKOTA.CO.ID - Lailatul Qadar merupakan malam istimewa dalam bulan Ramadhan yang diyakini memiliki keutamaan lebih baik daripada seribu bulan.

Pada malam tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, doa, dan amalan kebaikan untuk meraih keberkahan.

Namun muncul pertanyaan di kalangan umat: bagaimana jika seseorang justru melakukan maksiat pada malam yang sangat mulia itu?

Apakah dosa yang dilakukan juga dilipatgandakan sebagaimana pahala ibadah?

Baca Juga: Berbuka Puasa Pakai Mie Instan, Apakah Bisa Picu Masalah Kesehatan?

Pendakwah Buya Yahya memberikan penjelasan terkait hal ini dalam sebuah kajian yang disiarkan melalui kanal YouTube Al Bahjah TV yang dikutip Kamis, 12 Maret 2026.

Tidak Ada Dalil Dosa Dilipatgandakan di Malam Lailatul Qadar

Ilustrasi. Tidak ada dalil dosa dilipatgandakan di malam Lailatul Qadar. (Sumber: Freepik)

Dalam ceramahnya, Buya Yahya menegaskan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun.

Ia menjelaskan bahwa tidak ada riwayat yang menyebutkan dosa yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar akan dilipatgandakan seperti pahala ibadah.

Menurutnya, Allah lebih menonjolkan sisi kasih sayang dan perhitungan kebaikan bagi hamba-Nya.

“Apakah maksiat di malam itu dihitung seperti seribu bulan? Tidak. Allah Maha Pengampun,” jelas Buya Yahya.

Baca Juga: Mengejar Lailatul Qadar, Ini Tata Cara Shalat Sunnah, Niat, dan Doa Mustajabnya

Meski demikian, ia menegaskan bahwa perbuatan maksiat tetap merupakan tindakan yang sangat disayangkan, terlebih jika dilakukan pada malam yang begitu dimuliakan.

Dosa Bisa Lebih Berat Karena Waktu dan Tempat

Buya Yahya juga menjelaskan bahwa tingkat keburukan sebuah maksiat bisa bertambah berat tergantung beberapa faktor, seperti siapa pelakunya, kapan dilakukan, dan di mana tempatnya.

Ia memberikan contoh bahwa dosa yang dilakukan oleh orang awam tentu berbeda bobotnya dengan dosa yang dilakukan oleh seorang ulama atau orang berilmu.

“Dosa orang awam tetap buruk, tetapi jika dilakukan oleh orang alim maka jauh lebih buruk,” ujarnya.

Hal yang sama juga berlaku pada dimensi waktu dan tempat. Melakukan dosa di luar bulan Ramadhan tetap merupakan perbuatan tercela, tetapi jika dilakukan di bulan Ramadhan, maka nilainya menjadi lebih berat.

Baca Juga: Masjid Istiqlal Buka Itikaf di 10 Malam Terakhir Ramadhan 2026, Ini Jadwal Kegiatannya

Apalagi jika maksiat dilakukan pada malam yang diyakini sebagai Lailatul Qadar.

“Itu merupakan kejahatan yang sangat besar,” tegas Buya Yahya.

Kasih Sayang Allah Jangan Dijadikan Alasan Meremehkan Dosa

Dalam penjelasannya, Buya Yahya juga mengingatkan bahwa kasih sayang Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan dosa.

Ia menyebutkan bahwa dalam banyak keadaan, seseorang yang baru berniat melakukan kebaikan sudah bisa dicatat sebagai pahala.

Sebaliknya, niat buruk tidak selalu langsung dicatat sebagai dosa sebelum benar-benar dilakukan.

Meski demikian, sikap meremehkan maksiat tetap tidak dibenarkan.

Baca Juga: Apa Saja Tanda Malam Lailatul Qadar? Ini Cara Meraihnya di 10 Hari Terakhir Ramadhan 2026

Menurut Buya Yahya, seseorang yang mengetahui kemungkinan besar malam tersebut adalah Lailatul Qadar tetapi tetap melakukan maksiat menunjukkan bahwa ia tidak benar-benar menghargai kemuliaan malam itu.

“Jika seseorang menduga itu malam Lailatul Qadar tetapi tetap berbuat maksiat, berarti ia tidak merindukan kemuliaan malam tersebut,” katanya.

Bahkan, ia menilai kondisi tersebut bisa menjadi tanda melemahnya keimanan seseorang.

“Orang yang sadar kemungkinan besar itu malam Lailatul Qadar namun masih bermaksiat, bisa jadi imannya sudah mulai runtuh,” pungkasnya.

Tags:
Dosa DilipatgandakanBuya Yahyaamalan kebaikandoaibadahumat Islambulan Ramadhanmalam istimewaLailatul Qadar

Insan Sujadi

Reporter

Insan Sujadi

Editor