Gubernur Jakarta Pramono Anung saat menyampaikan pernyataan kepada awak media mengenai PLTSa di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis, 12 Maret 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

JAKARTA RAYA

Atasi Masalah Sampah, Pemprov Jakarta Usulkan Tiga PLTSa Baru yang Mampu Olah Ribuan Ton Sampah per Hari

Kamis 12 Mar 2026, 20:33 WIB

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah berbasis energi melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan pihaknya akan secara resmi mengusulkan pembangunan tiga PLTSa kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI.

Fasilitas tersebut direncanakan dibangun di Bantargebang, Tunjungan (Jakarta Utara), dan Sunter.

“Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), DKI Jakarta akan secara resmi mengusulkan tiga PLTSa,” ujar Pramono saat ditemui di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis, 12 Maret 2026.

Baca Juga: Pramono Minta Warga Tak Panic Buying, Stok Pangan Jakarta Dipastikan Aman Jelang Ramadhan

Tiga Lokasi PLTSa di Jakarta

Pramono menjelaskan, ketiga proyek PLTSa tersebut akan dibangun di beberapa titik strategis untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah di ibu kota.

Lokasi pertama berada di Bantargebang, yang selama ini dikenal sebagai Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) utama Jakarta.

Lokasi kedua direncanakan di Tunjungan, Jakarta Utara, sementara lokasi ketiga berada di Sunter, yang sebelumnya telah dirancang sebagai proyek Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter.

“Yang pertama di Bantargebang, yang kedua di Tunjungan (Jakarta Utara), yang ketiga adalah di Sunter,” kata Pramono.

Baca Juga: Kasus Siram Air Keras ke Pelajar di Jakpus, Pramono Pastikan Pelaku Ditindak Tegas

Menurut Pramono, fasilitas PLTSa Bantargebang diproyeksikan mampu mengolah sekitar 3.000 ton sampah per hari.

Jumlah tersebut terdiri dari 2.000 ton sampah baru yang masuk setiap hari serta 1.000 ton sampah lama yang diambil dari timbunan di kawasan TPST Bantargebang.

“Kurang lebih 3.000 ton per hari, 2.000 sampah baru dan 1.000 adalah sampah lama yang diambil dari Bantargebang,” ujarnya.

Sementara itu, fasilitas PLTSa di Tunjungan, Jakarta Utara akan memiliki kapasitas pengolahan sekitar 2.000 ton sampah per hari, yang seluruhnya berasal dari sampah baru.

Baca Juga: Pelajar Tewas di Jalan Matraman, Pramono Perintahkan Bina Marga DKI Segera Tutup Jalan Berlubang

“Kemudian untuk Tunjungan itu 2.000 ton per hari, semuanya adalah sampah baru,” jelasnya.

Adapun fasilitas di kawasan Sunter diproyeksikan mampu mengolah sekitar 2.500 ton sampah baru per hari melalui proyek ITF Sunter.

“Sedangkan untuk di Sunter, ITF Sunter kurang lebih 2.500 ton, semuanya adalah sampah baru,” tambahnya.

Pramono menuturkan, apabila seluruh fasilitas tersebut dapat beroperasi bersamaan dengan fasilitas pengolahan sampah lainnya, termasuk RDF Plant di Rorotan, maka kapasitas pengolahan sampah Jakarta akan meningkat signifikan.

Baca Juga: Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,21 Persen, Pramono Dorong Kebijakan Inklusif

Dengan beroperasinya PLTSa dan fasilitas RDF tersebut, Jakarta diperkirakan mampu mengolah sekitar 6.500 hingga 7.000 ton sampah per hari.

“Maka dengan demikian untuk sampah di Jakarta kalau PLTS ini jalan dan Rorotan jalan, sudah kurang lebih 6.500 sampai 7.000 per hari sampah itu akan tertampung,” ujarnya.

Pengoperasian PLTSa juga diharapkan dapat mengurangi timbunan sampah di TPST Bantargebang yang selama ini menjadi tempat pembuangan utama sampah dari Jakarta.

Setiap hari sekitar 1.000 ton sampah lama di lokasi tersebut direncanakan akan diolah melalui fasilitas baru tersebut.

Baca Juga: Cegah Banjir dan Genangan, Pramono Ajak ASN hingga Warga Ikut Gerakan Jaga Jakarta Bersih Serentak

“Kemudian Bantargebang dikurangi setiap harinya 1.000 ton. Saya yakin ini juga akan mengurangi volume yang ada di Bantargebang,” kata Pramono.

Pramono berharap proses kerja sama untuk tahap kedua atau batch 2 dapat segera ditandatangani pada Mei atau Juni 2026.

Setelah penandatanganan dilakukan, pembangunan fasilitas PLTSa diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 bulan hingga dapat beroperasi.

“Mudah-mudahan pada bulan Mei atau Juni ini sudah bisa tanda tangan batch 2, kemudian pembangunan kurang lebih 15 sampai dengan 20 bulan,” ujarnya. (cr-4). 

Tags:
BantargebangPramono AnungPLTSaPembangkit Listrik Tenaga SampahDKI Jakarta

Tim Poskota

Reporter

Muhammad Dzikrillah Tauzirie

Editor