Posisi berbaring juga membuat kerja sistem pencernaan menjadi lebih lambat dibandingkan ketika tubuh dalam posisi tegak.
Akibatnya, makanan berada lebih lama di lambung. Kondisi tersebut dapat memicu rasa penuh, kembung, hingga ketidaknyamanan pada perut saat bangun tidur.
Beberapa orang bahkan mengaku mengalami sensasi mual karena makanan belum sepenuhnya dicerna ketika tubuh sudah beristirahat.
3. Memicu Mual dan Gangguan Lambung
Ketika makanan belum selesai dicerna namun tubuh sudah berbaring, sistem pencernaan bisa mengalami tekanan tambahan. Situasi ini dapat memicu sejumlah keluhan seperti mual, sendawa berlebihan, hingga rasa tidak nyaman pada lambung.
Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut bahkan bisa menimbulkan muntah ringan atau sensasi perut yang terasa sangat penuh.
4. Kualitas Tidur Menurun
Tidur dalam kondisi perut penuh juga dapat memengaruhi kualitas tidur seseorang.
Gangguan seperti refluks asam lambung, perut kembung, dan rasa tidak nyaman sering membuat seseorang lebih mudah terbangun di tengah malam atau menjelang pagi.
Situs kesehatan My Medical Muse menyebutkan bahwa makanan tinggi karbohidrat dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang kemudian diikuti penurunan mendadak.
Perubahan kadar gula darah ini berpotensi membuat tubuh lebih mudah terbangun saat tidur.
5. Berpotensi Memicu Kenaikan Berat Badan
Kebiasaan tidur setelah makan tidak secara langsung menyebabkan kenaikan berat badan. Namun, jika dilakukan secara terus-menerus, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko penumpukan kalori dalam tubuh.
Hal ini terjadi karena tubuh langsung beristirahat tanpa aktivitas yang membakar energi dari makanan yang baru dikonsumsi.
Akibatnya, kalori lebih mudah disimpan sebagai lemak.
