POSKOTA.CO.ID - Harapan Amerika Serikat untuk membuka kembali jalur perundingan dengan Iran pupus di tengah bulan puasa Ramadan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas menyatakan bahwa dialog dengan Washington tidak lagi menjadi opsi, menyusul serangkaian serangan militer AS yang dianggap sebagai pengkhianatan berulang.
Dalam wawancara eksklusif dengan PBS News pada 10 Maret 2026, Araghchi menekankan pengalaman pahit Iran selama negosiasi sebelumnya.
Meski kemajuan tercapai dalam pembicaraan nuklir baru-baru ini, AS tetap melancarkan serangan. "Kami siap melanjutkan serangan rudal selama diperlukan.
Berbicara dengan Amerika tidak lagi ada dalam agenda kami," ujar Araghchi dengan tegas.
Sentimen Religius Menguat: "Selama Ramadan, Kami Tak Bicara dengan Setan"

Sikap keras pemerintah Iran mendapat dukungan masif dari masyarakat. Di media sosial dan jalanan Teheran, narasi perlawanan bercampur nuansa religius semakin kuat menjelang puncak Ramadan.
Frasa "Selama bulan Ramadan, kami tidak berbicara dengan setan" menjadi viral di berbagai platform digital Iran, mencerminkan penolakan total terhadap diplomasi dengan AS yang dianggap sebagai agresor.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, juga menegaskan posisi serupa melalui akun X-nya. Ia menolak gencatan senjata atau negosiasi, menyatakan bahwa agresor hanya memahami bahasa kekuatan.
"Kami tidak mencari gencatan senjata. Agresor harus dipukul agar belajar. Siklus perang-negosiasi hanya memperkuat dominasi mereka," tulis Qalibaf.
Baca Juga: Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Ini Profil dan Jejak 36 Tahun Kepemimpinannya di Iran
Ancaman Balasan Trump: "Dua Puluh Kali Lebih Keras"
Di kubu lawan, Presiden AS Donald Trump kembali menunjukkan gaya agresifnya.
Dalam postingan di Truth Social, Trump memperingatkan Iran agar tidak mengganggu lalu lintas minyak di Selat Hormuz.
"Jika Iran menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam Amerika Serikat DUA PULUH KALI lebih keras daripada sebelumnya! Death, fire, and fury akan menimpa mereka," ancam Trump.
Pernyataan ini disampaikan saat harga minyak dunia melonjak tajam akibat ketegangan, dengan pasar global mulai gelisah.
Trump menyebut operasi militer saat ini sebagai "ekspedisi jangka pendek" dan mengklaim AS telah unggul dalam banyak aspek.
Selat Hormuz Terancam, Ekonomi Global di Ujung Tanduk
Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, kini menjadi titik panas. Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran bersumpah tidak akan membiarkan satu tetes minyak pun keluar selama agresi AS-Israel berlanjut.
Akibatnya, kapal tanker terpaksa mengambil rute memutar, sementara jalur alternatif seperti pipa Saudi Aramco hanya mampu menangani sebagian kecil volume.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menyatakan kekhawatiran serius.
"Situasi ini memblokir volume minyak besar. Jika berlanjut, dampaknya terhadap ekonomi global akan sangat parah, terutama lonjakan harga bensin dan avtur," kata Nasser.
Di tengah puasa Ramadan yang membawa dimensi spiritual bagi Iran, dan ancaman balasan masif dari Trump, dunia menahan napas.
Ketegangan antara dua kekuatan besar ini menempatkan stabilitas energi global di ambang kehancuran, sementara harapan damai semakin memudar.