POSKOTA.CO.ID - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG merupakan indikator utama yang menggambarkan kinerja keseluruhan pasar saham di Indonesia.
Pergerakan indeks ini sering dijadikan acuan oleh investor untuk melihat kondisi pasar modal, sentimen ekonomi, serta arah investasi jangka pendek maupun panjang.
Pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026, IHSG dibuka melemah sejak awal sesi. Tekanan jual langsung mendominasi pasar sehingga indeks bergerak di zona merah sepanjang sesi pertama perdagangan.
Melansir dari IHSG, data awal menunjukkan IHSG turun 211,37 poin atau sekitar 2,79 persen ke level 7.374,31. Sepanjang sesi pembukaan, indeks bergerak dalam rentang 7.316 hingga 7.374 yang mencerminkan tekanan jual masih cukup kuat.
Aktivitas transaksi di bursa juga tergolong tinggi. Sebanyak 3,64 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp1,61 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 156.627 kali. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, mayoritas mengalami penurunan dengan 526 saham melemah, 45 saham menguat, dan 110 saham bergerak stagnan.
Baca Juga: Promo Menarik Alfamart Hari Ini Senin, 9 Maret 2026, Minyak Goreng dan Biskuit Turun Harga
Meski pasar sedang tertekan, beberapa emiten masih mampu mencatatkan kenaikan harga saham pada awal perdagangan, antara lain:
- PT Indo Oils Perkasa Tbk naik 17,76% ke Rp252
- PT Krida Jaringan Nusantara Tbk menguat 14,58% ke Rp165
- PT Koka Indonesia Tbk naik 12,31% ke Rp292
- PT Champ Resto Indonesia Tbk meningkat 11,23% ke Rp505
- PT Sigma Energy Compressindo Tbk naik 7,26% ke Rp148
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun indeks utama melemah, peluang keuntungan tetap ada pada saham-saham tertentu.
Penyebab IHSG Turun: Faktor Global dan Domestik
Penurunan IHSG tidak terjadi secara tiba-tiba. Pergerakan pasar saham biasanya dipengaruhi kombinasi sentimen global dan kondisi domestik yang memengaruhi keputusan investor.
1. Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah
Salah satu faktor utama yang memicu tekanan pada pasar keuangan global adalah meningkatnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Ketegangan geopolitik berpotensi memicu ketidakstabilan ekonomi global. Beberapa risiko yang sering muncul antara lain:
- lonjakan harga energi dunia
- tekanan inflasi global
- volatilitas pasar keuangan internasional
Dalam situasi seperti ini, investor global biasanya cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham.
2. Investor Global Beralih ke Mode Risk-Off
Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, banyak investor global menerapkan strategi risk-off, yaitu mengalihkan investasi dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Aset yang sering menjadi tujuan dalam strategi ini antara lain:
- dolar AS
- emas
- obligasi pemerintah negara maju
Perubahan aliran dana tersebut biasanya berdampak pada pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, karena terjadi arus keluar modal atau capital outflow.
3. Perubahan Prospek Ekonomi Indonesia
Sentimen domestik juga turut memengaruhi pergerakan pasar. Salah satu perhatian investor adalah perubahan outlook ekonomi Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional yang dinilai menjadi negatif.
Meski belum berdampak langsung pada penurunan peringkat kredit negara, perubahan prospek ini cukup memengaruhi sentimen pasar dan meningkatkan kehati-hatian investor.
4. Aksi Jual Investor Asing
Tekanan pada IHSG juga dipicu oleh aksi jual investor asing atau net sell. Investor asing memiliki kepemilikan besar pada saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan.
Ketika saham-saham bank besar mengalami penurunan harga, dampaknya langsung terasa pada indeks secara keseluruhan karena bobotnya yang besar di dalam IHSG.
5. Bursa Saham Asia Ikut Melemah
Pergerakan IHSG sering kali sejalan dengan bursa saham global, terutama di kawasan Asia. Ketika pasar saham regional mengalami koreksi akibat sentimen global yang sama, tekanan tersebut biasanya turut memengaruhi pasar saham Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa dinamika ekonomi global memiliki peran penting dalam menentukan arah pasar domestik.
6. Pelemahan di Sektor Saham Utama
Penurunan IHSG juga dipicu oleh pelemahan di beberapa sektor besar seperti:
- sektor perbankan
- sektor properti
- sektor infrastruktur
- sektor industri
Karena sektor-sektor ini memiliki kapitalisasi pasar besar, penurunan harga sahamnya dapat langsung memberikan tekanan signifikan terhadap indeks. Di sisi lain, sektor energi justru relatif lebih stabil karena didukung kenaikan harga minyak dunia.
Strategi Investasi Saat IHSG Turun
Koreksi pasar saham tidak selalu menjadi kabar buruk bagi investor. Banyak pelaku pasar justru melihat penurunan harga sebagai peluang untuk membeli saham berkualitas dengan harga lebih murah.
Strategi yang sering digunakan adalah buy on dip, yaitu membeli saham ketika harga sedang mengalami koreksi.
Beberapa sektor yang sering dianggap menarik saat pasar melemah antara lain:
1. Saham Bank Blue Chip
Saham bank besar biasanya memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi sehingga sering menjadi pilihan utama saat pasar bergejolak.
2. Saham Konsumer
Sektor konsumsi cenderung defensif karena produk yang dijual tetap dibutuhkan masyarakat dalam berbagai kondisi ekonomi.
3. Saham Infrastruktur dan Telekomunikasi
Perusahaan di sektor ini umumnya memiliki proyek jangka panjang yang memberikan prospek pertumbuhan stabil.
4. Saham Komoditas
Saham komoditas sering memberikan peluang trading, terutama ketika harga komoditas global sedang meningkat.
Pelemahan IHSG merupakan fenomena yang wajar dalam dinamika pasar saham. Pergerakan indeks tidak hanya dipengaruhi kondisi ekonomi domestik, tetapi juga sentimen global seperti konflik geopolitik, perubahan aliran modal, hingga pergerakan pasar regional.
Bagi investor, memahami faktor-faktor tersebut sangat penting untuk menentukan strategi investasi yang tepat. Koreksi pasar sering kali menjadi momentum untuk melakukan akumulasi saham berkualitas dengan harga yang lebih menarik.
