Keistimewaan utama periode ini adalah kemungkinan turunnya Lailatul Qadar, malam kemuliaan yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Qadr ayat 1-3:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."
Rasulullah SAW bersabda:
"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan." (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)
Beliau juga menambahkan:
"Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan." (HR. Bukhari)
Dengan beritikaf, seseorang dapat lebih mudah menghidupkan malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan) untuk meraih ampunan dosa masa lalu.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Itikaf sendiri memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW rutin melakukannya hingga wafat, dan beliau bersabda:
"Siapa yang ingin beritikaf bersamaku, maka beritikaflah pada sepuluh malam terakhir." (HR. Ibnu Hibban)
Dalam riwayat lain, pahala itikaf sepuluh hari di Ramadhan disebut setara dengan dua haji dan dua umrah (HR. Baihaqi).
