Indonesia Gabung Board of Peace, Guru Besar UGM Ingatkan Risiko Sulit Jadi Mediator Konflik Iran

Sabtu 07 Mar 2026, 11:45 WIB
Guru Besar UGM menyebut Indonesia perlu meninjau ulang keanggotaan di Board of Peace karena berpotensi memunculkan persepsi keberpihakan dalam konflik Iran dengan AS dan Israel. (Sumber: X/@TheDailyCPEC)

Guru Besar UGM menyebut Indonesia perlu meninjau ulang keanggotaan di Board of Peace karena berpotensi memunculkan persepsi keberpihakan dalam konflik Iran dengan AS dan Israel. (Sumber: X/@TheDailyCPEC)

Baca Juga: Trump Murka Inggris-Spanyol Tolak Bantu AS Serang Iran

Potensi Persepsi Keberpihakan Indonesia

Lebih lanjut, Siti menilai keterlibatan Indonesia dalam BoP dapat menimbulkan persepsi keberpihakan dalam konflik Timur Tengah. Padahal, posisi netral merupakan syarat penting bagi sebuah negara yang ingin berperan sebagai mediator dalam konflik internasional.

Ketika suatu negara dianggap berada dalam blok tertentu, peluangnya untuk diterima sebagai penengah oleh pihak lain menjadi lebih kecil.

“Mediator harus berada dalam posisi netral, sementara ketika Indonesia masuk dalam BoP yang beranggotakan Amerika Serikat dan Israel maka akan sulit bagi pihak lain seperti Iran untuk menerima Indonesia sebagai penengah,” pesannya.

Baca Juga: Dua Kapal Tanker Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Pemerintah RI Lakukan Negosiasi

Akar Sejarah Konflik Iran dan Amerika Serikat

Dalam pandangannya, konflik antara Iran dan Amerika Serikat memiliki sejarah panjang yang membentuk ketegangan hingga saat ini. Hubungan kedua negara memburuk sejak terjadinya Revolusi Iran 1979 yang kemudian diikuti krisis penyanderaan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran.

Peristiwa tersebut menjadi titik awal memburuknya hubungan diplomatik Iran dengan negara-negara Barat, sekaligus membentuk berbagai narasi politik yang memengaruhi persepsi global terhadap Iran.

“Sejak Revolusi Iran tahun 1979 hubungan Iran dengan Amerika Serikat terus berada dalam ketegangan dan berbagai narasi politik kemudian membentuk persepsi global terhadap Iran,” ujarnya.

Siti menilai konflik berkepanjangan antara Iran dan negara Barat turut memengaruhi stabilitas geopolitik di kawasan Timur Tengah. Hubungan yang diliputi ketidakpercayaan serta kebijakan sanksi ekonomi membuat konflik tersebut sulit diselesaikan dalam waktu singkat.


Berita Terkait


News Update