Ia menegaskan bahwa koordinasi lintas pihak menjadi kunci agar tidak terjadi gesekan sosial serta memastikan toleransi antarumat beragama tetap terjaga.
"Alhamdulillah, kami melaporkan kepada Bapak Presiden sudah ada persepakatan kami dengan pemerintah setempat dengan tokoh-tokoh masyarakat di Bali bahwa takbir itu tidak bertentangan dengan Nyepi. Cuma syaratnya ya Nyepi-nya berjalan tapi takbirnya juga berjalan, cuma tidak pakai sound system dan dibatasi waktunya juga dari jam 6 sampai jam 9," jelasnya.
Baca Juga: Sambut Mudik Ramadhan, BAZNAS RI Berikan Layanan Servis dan Ganti Oli Gratis bagi 5.000 Motor
Penetapan Idulfitri Menunggu Sidang Isbat
Dalam kesempatan tersebut, Menag turut menyinggung kemungkinan adanya perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Ia menilai perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dalam kehidupan beragama di tanah air.
“Dan lebarannya pun juga ya perbedaan itu kita terima sebagai suatu hal yang biasa di Indonesia. Nanti kita akan lihat sidang isbat penentuannya kapan pastinya akan Idulfitri nanti akan datang,” kata Nasaruddin.
Pemerintah memastikan keputusan resmi mengenai Idulfitri tetap akan ditentukan melalui sidang isbat yang melibatkan berbagai pihak terkait.
Momentum Toleransi Antarumat Beragama di Indonesia
Berdekatannya perayaan Nyepi dan malam takbiran dinilai menjadi contoh nyata praktik toleransi di Indonesia. Pemerintah menegaskan komitmen untuk terus menjaga kerukunan antarumat beragama, terutama pada momentum hari besar keagamaan.
Sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat diharapkan mampu menjadikan perayaan keagamaan berlangsung damai, tertib, serta saling menghormati sebagai bagian dari nilai persatuan bangsa Indonesia.
