Malam Takbiran dan Hari Raya Nyepi 2026 Berpotensi Bersamaan, Pemerintah Siapkan Aturan Khusus di Bali

Kamis 05 Mar 2026, 12:00 WIB
Menag Nasaruddin Umar mengungkap kesepakatan pelaksanaan takbiran tanpa sound system di Bali saat Nyepi 2026 agar kedua perayaan tetap berjalan saling menghormati. (Sumber: Dok. Kemenag)

Menag Nasaruddin Umar mengungkap kesepakatan pelaksanaan takbiran tanpa sound system di Bali saat Nyepi 2026 agar kedua perayaan tetap berjalan saling menghormati. (Sumber: Dok. Kemenag)

Ia menegaskan bahwa koordinasi lintas pihak menjadi kunci agar tidak terjadi gesekan sosial serta memastikan toleransi antarumat beragama tetap terjaga.

"Alhamdulillah, kami melaporkan kepada Bapak Presiden sudah ada persepakatan kami dengan pemerintah setempat dengan tokoh-tokoh masyarakat di Bali bahwa takbir itu tidak bertentangan dengan Nyepi. Cuma syaratnya ya Nyepi-nya berjalan tapi takbirnya juga berjalan, cuma tidak pakai sound system dan dibatasi waktunya juga dari jam 6 sampai jam 9," jelasnya.

Baca Juga: Sambut Mudik Ramadhan, BAZNAS RI Berikan Layanan Servis dan Ganti Oli Gratis bagi 5.000 Motor

Penetapan Idulfitri Menunggu Sidang Isbat

Dalam kesempatan tersebut, Menag turut menyinggung kemungkinan adanya perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Ia menilai perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dalam kehidupan beragama di tanah air.

“Dan lebarannya pun juga ya perbedaan itu kita terima sebagai suatu hal yang biasa di Indonesia. Nanti kita akan lihat sidang isbat penentuannya kapan pastinya akan Idulfitri nanti akan datang,” kata Nasaruddin.

Pemerintah memastikan keputusan resmi mengenai Idulfitri tetap akan ditentukan melalui sidang isbat yang melibatkan berbagai pihak terkait.

Momentum Toleransi Antarumat Beragama di Indonesia

Berdekatannya perayaan Nyepi dan malam takbiran dinilai menjadi contoh nyata praktik toleransi di Indonesia. Pemerintah menegaskan komitmen untuk terus menjaga kerukunan antarumat beragama, terutama pada momentum hari besar keagamaan.

Sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat diharapkan mampu menjadikan perayaan keagamaan berlangsung damai, tertib, serta saling menghormati sebagai bagian dari nilai persatuan bangsa Indonesia.


Berita Terkait


News Update