Ia mengingatkan bahwa penyebutan Ramadhan dalam Al-Qur’an lebih dahulu dikaitkan dengan peristiwa turunnya Al-Qur’an, bukan langsung dengan perintah puasa.
“Ramadhan itu disebut dalam Al-Qur’an bukan dilekatkan dengan puasa, tapi dilekatkan dengan turunnya Al-Qur’an,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi penting bagi umat Islam agar tidak memisahkan Ramadhan dari Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an adalah sumber petunjuk yang menghidupkan nilai-nilai ibadah selama bulan suci.
Baca Juga: Seberapa Besar Pahala Shalat Tarawih? Ini Dalil dan Penjelasannya
Membangun Dialog Batin dengan Al-Qur’an
Menurut Felix, cara terbaik berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah menghadirkan perasaan bahwa setiap ayat ditujukan untuk diri sendiri.
Bukan sekadar dibaca untuk menasihati orang lain, melainkan untuk mengoreksi dan memperbaiki diri.
“Cara terbaik berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah merasa bahwa ayat itu turun untuk kita sendiri, bukan sekadar untuk orang lain,” jelasnya.
Pendekatan ini membuat tilawah tidak lagi hanya menjadi target khatam, tetapi menjadi dialog batin yang mendalam antara hamba dan Tuhannya.
Baca Juga: Iman kepada Qada dan Qadar: Dalil Alquran dan Hikmahnya bagi Kehidupan
Ramadhan sebagai Momentum Perbaikan Diri
Puasa melatih pengendalian diri dan kesabaran. Namun, Al-Qur’an memberikan arah, makna, dan tujuan hidup. Tarawih bukan sekadar rutinitas malam hari, melainkan ruang kontemplasi.
Tilawah bukan sekadar bacaan, melainkan petunjuk yang membimbing langkah.
Esensi Ramadhan sejatinya adalah kembali kepada Al-Qur’an, kembali kepada petunjuk, dan kembali kepada Allah sebagai sumber kecukupan.
