Petugas PPSU Agus Suprihatin menyirami lahan pertanian di Kolong Tol RW 13 Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Selasa, 3 Maret 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

SUDUT KOTA

Lahan Kumuh jadi Kebun Hijau, Cerita Agus Dirikan Urban Farming di Kolong Tol Becakayu

Rabu 04 Mar 2026, 06:03 WIB

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Di banyak kota besar, kolong jalan tol identik dengan hamparan tanah kosong, area kumuh, atau sekadar ruang tak terpakai.

Namun, pemandangan berbeda terlihat di Jakarta Timur. Di bawah bentangan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) lahan yang dulunya tak terawat kini disulap menjadi kawasan urban farming atau pertanian perkotaan.

Deretan tanaman sayur tumbuh rapi di bawah konstruksi beton yang menjulang. Aneka komoditas seperti kangkung, bayam, sawi, hingga tanaman hortikultura lainnya menghijaukan area yang sebelumnya hanya dipenuhi debu dan semak liar.

Sebagian bahkan dikembangkan dengan metode hidroponik, memanfaatkan ruang secara efisien dan ramah lingkungan.

Baca Juga: Warga Kalideres Jakbar Manfaatkan Lahan 5.000 Meter Persegi untuk Urban Farming, Hasil Panen Dijual

Transformasi ini bukan sekadar mempercantik kawasan. Program urban farming di kolong Tol Becakayu menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan perkotaan, sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.

Kehadiran kebun di bawah tol juga membawa dampak sosial dan lingkungan. Area yang dulu terkesan terbengkalai kini lebih tertata dan hidup.

Aktivitas bercocok tanam menghadirkan ruang interaksi baru bagi warga, sekaligus mengurangi potensi penyalahgunaan lahan kosong.

Di tangan Agus, area bekas proyek yang dulu berantakan kini berubah menjadi kebun urban farming seluas kurang lebih 1.500 meter persegi.

Baca Juga: Pemprov Jakarta Kembangkan Ketahanan Pangan lewat Urban Farming

Agus merupakan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) yang sekaligus menjadi perawat tunggal kebun tersebut.

Ia mulai bertugas di lokasi itu sejak akhir 2019 hingga 2020. Saat pertama datang, kondisinya jauh dari kata layak untuk bercocok tanam.

“Oh, saya kebetulan di sini dari tahun 2020 ya. Akhir 2019 masuk ke 2020 saya ditugaskan di sini. Awalnya kebersihan, soalnya kan dulu ini bekasnya proyek Becakayu ya, berantakan yang nggak karuan lah kayak hutan,” kata Agus kepada Poskota, Selasa, 3 Maret 2026.

Agus mengaku prosesnya tidak instan. Ia harus membersihkan lahan selama berbulan-bulan sebelum bisa mulai menanam.

“Ya itu pun kita nggak langsung bisa nanam. Sebulan, dua bulan, tiga bulan lah baru bisa nanam. Itu pun nggak langsung lebar. 200 meter, 100 meter, 500 meter, ya sampai sekarang alhamdulillah sampai ke 1.500 meter persegi,” ujarnya.

Menurutnya, program urban farming di kolong tol ini mulai digencarkan saat pandemi Covid-19. Ketika itu, pemerintah mendorong penguatan ketahanan pangan di tingkat wilayah.

Baca Juga: Manfaatkan Lahan Sempit Demi Ketahanan Pangan, Prajurit di Bekasi Bangun Urban Farming di Atas Gedung

“Dari semenjak ada COVID ya. Pas COVID itu kan kita buat ketahanan pangan ya. Jadi dari tahun 2019,” ucapnya.

Ia menegaskan, dirinya merawat kebun tersebut seorang diri, mulai dari mencangkul, menyemai, menanam, merawat hingga panen.

“Saya di sini pure sendiri. Sendiri, dari macul, nanam, merawat, sampai panen,” ucapnya.

Setiap hari Agus sudah berada di lokasi sejak pukul 06.00 WIB untuk menyiram tanaman. Setelah itu, ia melanjutkan dengan pekerjaan lain seperti mencangkul lahan baru dan mempersiapkan bibit.

Baca Juga: Mantap! Kolong Tol di Warakas Disulap Jadi Lahan Produktif, PKK Jakarta Utara Kembangkan Urban Farming

“Soalnya kan kita jam 6 nyiram ya. Selesai nyiram ada kegiatan lain lagi seperti masih banyak bahan yang harus saya paculin,” tuturnya.

Berbekal latar belakang sebagai anak petani, Agus mengaku tak kesulitan menekuni pekerjaan ini.

“Emang saya anak petani. Kedua juga saya hobi tanaman. Intinya kita hobi aja sama tanaman,” katanya.

Di lahan tersebut, berbagai jenis sayuran tumbuh subur, mulai dari sawi, kol, kembang kol hingga selada. Tanaman tunas seperti terong dan cabai juga ada, meski jumlahnya tidak sebanyak sayuran daun.

“Kalau di sini saya pure sayuran ya. Ada sawi, ada kembang kol, ada kol, ada selada kemarin kita habis panen. Tapi tanaman tunasnya seperti terong, cabai itu sedikit,” ujarnya.

Belakangan, kawasan itu juga mulai mengembangkan budidaya maggot sebagai bagian dari program baru pemerintah.

Baca Juga: Kunjungi Agrowisata Urban Farming, Wapres Apresiasi Masyarakat Manfaatkan Pemukiman jadi Lahan Perkebunan

“Iya maggot, itu baru, itu program Pak Gubernur juga,” kata Agus.

Agus mengakui, meski terlihat hijau dan rapi, bercocok tanam di bawah kolong tol bukan tanpa tantangan. Minimnya paparan sinar matahari menjadi kendala utama.

“Namanya di kolong berarti yang pasti kurang matahari. Padahal tanaman 4 jam sampai 6 jam tuh harus kena matahari. Dia ngebakar bakteri, bakteri daun,” jelasnya.

Selain itu, perubahan cuaca dari musim panas ke musim hujan kerap memicu serangan hama.

Baca Juga: Asrinya Gang Hijau di RW 02 Pegangsaan Dua, Dari Tanaman Obat Hingga Urban Farming

“Kedua kendalanya kalau habis ketemu dari musim panas ke musim hujan seperti ini, itu hama cepat datang,” ucap dia.

Hasil panen dari kebun tersebut tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga melibatkan warga dan kader PKK. Panen raya bahkan digelar hingga tingkat kecamatan dan kota.

“Kita juga udah dirangkul sama Dinas KPKP DKI Jakarta yang sudah banyak membantu hibrida, pupuk,” ujarnya.

Dalam satu kali panen besar, Agus menyebut hasil sawi bisa mencapai 60 kilogram.

“Bulan yang lalu kita sempat panen lumayan besar, sampai dapat 60 kilo itu sawi. 60 kilo, 40 kilo, ya lumayan lah. Bulan-bulan kemarin tuh bisa sampai dana itu masuk hampir satu jutaan per bulan,” ungkapnya.

Sebagian hasil panen dijual, sebagian lagi dibagikan ke warga atau dikirim ke program Pasar Tumbuh tingkat Kota Administrasi Jakarta Timur.

Dana hasil penjualan masuk ke kas urban farming untuk kebutuhan mendesak seperti pembelian bibit, pupuk, dan pestisida.

Di tengah padatnya pembangunan dan minimnya lahan terbuka di ibu kota, kolong Tol Becakayu menjadi contoh bahwa ruang terbatas pun bisa diolah menjadi sumber kehidupan. Dari hamparan tanah yang dulu tak bernilai, kini tumbuh harapan hijau bagi Jakarta Timur. (cr-4)

Tags:
PPSUTol Becakayuurban farming

Tim Poskota

Reporter

Febrian Hafizh Muchtamar

Editor