POSKOTA.CO.ID - Puasa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus sejak Subuh hingga Maghrib. Ibadah ini juga menjadi latihan kesabaran dan pengendalian diri.
Namun, tidak sedikit orang yang mengaku tetap mudah terpancing emosi saat berpuasa.
Lantas, bagaimana hukumnya jika seseorang masih sering marah saat menjalankan puasa? Apakah puasanya tetap sah atau justru batal?
Dilansir dari laman resmi rumah zakat pada Selasa, 3 Maret 2026. Berikut penjelasan.
Baca Juga: 5 Tips Agar Mulut Tidak Bau Saat Berpuasa dan Tetap Segar Seharian
Puasa tapi Sering Marah, Apakah Membatalkan?

Secara hukum fikih, marah tidak termasuk perkara yang membatalkan puasa.
Hal-hal yang membatalkan puasa secara tegas adalah makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari, serta perbuatan lain yang telah disebutkan dalam dalil.
Artinya, puasa seseorang tetap sah meskipun ia sempat marah.
Namun demikian, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan buruk.
Baca Juga: Salat Gerhana Mulai Jam Berapa saat Ramadhan? Ini Jadwal Masing-masing Daerah
Dengan kata lain, marah memang tidak membatalkan puasa, tetapi dapat mengurangi nilai pahala yang diperoleh.
Hukum Marah saat Puasa Menurut Ulama
Para ulama menjelaskan bahwa marah pada dasarnya adalah sifat manusiawi.
Akan tetapi, marah yang tidak terkendali hingga melahirkan cacian, makian, atau menyakiti orang lain termasuk perbuatan tercela, terlebih saat bulan Ramadhan.
Marah dapat dibagi menjadi dua bentuk. Pertama, marah yang wajar dan proporsional, misalnya ketika melihat kemungkaran. Kedua, marah yang berlebihan dan melampaui batas.
Bentuk kedua inilah yang dilarang keras karena dapat merusak esensi ibadah.
Baca Juga: Waspada! 5 Hal Ini Bisa Hanguskan Pahala Puasa Ramadhan
Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa ada orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan haus.
Hal ini menjadi peringatan agar umat Islam menjaga lisan dan perilaku selama berpuasa.
Dampak Marah Terhadap Pahala Puasa
Tujuan utama puasa Ramadhan adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Salah satu indikator ketakwaan ialah kemampuan mengendalikan emosi.
Jika seseorang masih sering marah saat puasa, maka tujuan pembinaan diri belum sepenuhnya tercapai.
Emosi yang tidak terkontrol bisa memicu pertengkaran, menyakiti perasaan orang lain, hingga merusak hubungan sosial.
Dari sisi kesehatan, kemarahan juga dapat menguras energi.
Baca Juga: 9 Amalan Nabi Muhammad SAW di Bulan Ramadhan yang Jarang Diketahui, Nomor 4 Sering Terlewat!
Tubuh yang sedang berpuasa membutuhkan kestabilan emosi agar tidak cepat lelah. Karena itu, menjaga amarah bukan hanya berdampak pada pahala, tetapi juga kondisi fisik.
Mengapa Emosi Lebih Mudah Terpancing saat Puasa?
Ada sejumlah faktor yang membuat seseorang lebih sensitif saat berpuasa.
Perubahan kadar gula darah bisa memengaruhi suasana hati. Kurang tidur akibat sahur dan ibadah malam juga berpotensi menurunkan kestabilan emosi.
Selain itu, tekanan pekerjaan dan aktivitas harian tetap berjalan seperti biasa meskipun kondisi fisik sedang menahan lapar dan haus.
Kombinasi faktor-faktor tersebut sering kali memicu kemarahan.
Meski demikian, kondisi tersebut bukan alasan untuk meluapkan emosi. Justru di sinilah makna latihan kesabaran diuji selama Ramadhan.
Cara Mengendalikan Emosi saat Puasa
Agar puasa tidak hanya sah secara hukum tetapi juga maksimal secara pahala, pengelolaan emosi menjadi kunci penting.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Memperbanyak dzikir dan mengingat tujuan berpuasa.
- Mengucapkan ta’awudz ketika mulai marah.
- Mengubah posisi, misalnya dari berdiri menjadi duduk, sebagaimana dianjurkan dalam hadis.
- Menghindari perdebatan yang tidak perlu.
- Menjaga pola makan sahur dan berbuka agar tubuh tetap bugar.
Jika ada orang yang memancing emosi, cukup katakan bahwa sedang berpuasa. Sikap ini dapat meredam konflik sekaligus menjaga kualitas ibadah.
Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Haus
Puasa Ramadhan menyentuh dimensi fisik dan spiritual sekaligus. Menahan makan dan minum hanyalah salah satu aspek lahiriah. Sementara itu, menjaga lisan, hati, dan perilaku merupakan aspek batiniah yang tak kalah penting.
Puasa yang disertai amarah berlebihan memang tetap sah secara hukum. Namun, kualitasnya perlu dievaluasi. Ramadhan sejatinya menjadi momen untuk memperbaiki akhlak dan meningkatkan ketakwaan.
Puasa Ramadhan tetap sah meskipun seseorang masih sempat marah, selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Namun, kemarahan yang berlebihan dapat mengurangi pahala dan nilai ibadah.
Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk melatih kesabaran dan pengendalian diri. Dengan menjaga emosi, memperbanyak dzikir, serta menghindari konflik, puasa tidak hanya sah secara fikih, tetapi juga bernilai sempurna di sisi Allah SWT.
Semoga kita termasuk golongan yang mampu menjaga lisan, hati, dan sikap selama menjalankan ibadah puasa.