Dalam klarifikasinya, Andhika menyampaikan permohonan maaf kepada peserta, alumni, orang tua, rekan kerja, hingga masyarakat yang merasa tidak nyaman atas situasi yang berkembang sejak akhir Februari 2026.
Meski demikian, dia menegaskan tidak pernah melakukan tindakan pelecehan seksual seperti yang dituduhkan.
"Namun, secara tegas saya menyatakan tidak pernah melakukan, ataupun berniat melakukan pelecehan seksual terhadap siapa pun, apalagi terhadap anak di bawah umur," ujar dia.
Pihaknya juga menyinggung kemungkinan adanya perbedaan persepsi dalam pola komunikasi dan interaksi profesionalnya.
Dia mengakui bahwa gaya komunikasi dan interaksinya dalam lingkungan profesional, khususnya yang melibatkan anak muda, bisa saja menimbulkan kesalahpahaman bagi sebagian orang.
Menurut dia, pengalaman ini menjadi refleksi penting agar batasan interaksi dijaga lebih jelas ke depan.
"Saya memahami setiap orang memiliki batas kenyamanan yang berbeda. Perasaan setiap individu adalah valid terlepas dari intensi yang dimiliki pihak lainnya," katanya.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Andhika membuka ruang dialog serta mempersilakan pihak independen melakukan verifikasi.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Andhika juga membuka ruang komunikasi bagi siapa pun yang ingin menyampaikan pengalaman atau klarifikasi secara langsung.
Dia bahkan, mengundang institusi pihak ketiga yang independen dan kredibel untuk melakukan verifikasi menyeluruh terhadap seluruh tuduhan yang beredar.
"Saya berharap proses ini dapat memberikan kejelasan bagi semua pihak," ucapnya.
Dalam pernyataan yang sama, Andhika juga mengumumkan langkah strategis terkait pengelolaan program yang ia dirikan.
