Mustafa Kemal Ataturk dari jenderal perang ke presiden pertama Turki. (Sumber: aa turkiye)

Internasional

Siapa Mustafa Kemal Ataturk? Dari Jenderal Perang ke Presiden Pertama Turki yang Mengakhiri Ottoman

Minggu 01 Mar 2026, 15:07 WIB

POSKOTA.CO.ID - Nama Mustafa Kemal Ataturk tak bisa dilepaskan dari lahirnya Republik Turki modern.

Dilansir dari berbagai sumber pada Minggu, 1 Maret 2026. Ia dipuja sebagai Bapak Bangsa Turki, tetapi juga kerap dipandang kontroversial karena perannya dalam runtuhnya Kekaisaran Ottoman dan kebijakan sekularisasi yang drastis.

Ataturk menjabat sebagai presiden pertama Turki sejak 1923 hingga wafat pada 1938.

Dalam kurun waktu tersebut, ia melakukan transformasi besar-besaran yang mengubah wajah negara dari monarki Islam menjadi republik sekuler bergaya Barat.

Baca Juga: Dampak Konflik AS-Israel dan Iran, Saudi Airlines Batalkan Penerbangan: Nasib Jamaah Umrah Indonesia Jadi Perhatian

Latar Belakang dan Karier Militer

Latar belakang dan karier militer (Sumber: wikipedia)

Mustafa Kemal lahir sekitar 1881 di Salonica-kini Thessaloniki, Yunani-yang saat itu masih bagian dari Kekaisaran Ottoman.

Berasal dari keluarga kelas menengah Muslim berbahasa Turki, ia menempuh pendidikan militer dan dikenal sebagai siswa berprestasi.

Penugasannya membawanya ke Suriah dan Palestina, sebelum kembali ke Salonica. Pada 1911–1912, ia ikut berperang melawan Italia di Libya. Namanya semakin menonjol saat Perang Dunia I.

Pada 1915, dalam kampanye Semenanjung Gallipoli, Mustafa Kemal berhasil memimpin pasukan Ottoman menahan gempuran Inggris dan Prancis yang berupaya merebut Istanbul.

Baca Juga: Rudal Iran Hantam Pangkalan AS Usai Serangan Israel, Timur Tengah Memanas!

Keberhasilan itu mengangkat reputasinya dan membuatnya dipromosikan menjadi brigadir jenderal.

Mengambil Alih Kekuasaan Pasca-Perang

Setelah Perang Dunia I berakhir, Kekaisaran Ottoman berada di ambang kehancuran.

Perjanjian damai 1920 memecah wilayah Ottoman dan memberi kendali besar kepada Sekutu atas sisa wilayah Turki.

Namun Mustafa Kemal membentuk gerakan nasionalis berbasis di Ankara untuk menolak pembagian wilayah tersebut.

Pemerintahan sultan di Istanbul bahkan menjatuhkan hukuman mati kepadanya secara in absentia, tetapi ia justru mendapat dukungan luas dari militer dan rakyat.

Baca Juga: As-Israel Serang Iran, Ledakan Besar Terdengar di Teheran

Pasukannya berhasil mengalahkan Armenia di timur serta memaksa Prancis dan Italia mundur dari selatan.

Pada 1921, dalam Pertempuran Sakarya, pasukan Turki di bawah komandonya menghentikan laju Yunani. Setahun kemudian, serangan balasan memaksa Yunani mundur hingga ke Smyrna (Izmir).

Konflik tersebut memicu eksodus besar-besaran penduduk Yunani dan Armenia. Ketegangan etnis dan perpindahan paksa menjadi bagian kelam dari periode ini.

Lahirnya Republik Turki

Pada Juli 1923, perjanjian damai baru mengakui kedaulatan Turki sebagai negara merdeka.

Tak lama kemudian, Majelis Agung Nasional memproklamasikan Republik Turki dan memilih Mustafa Kemal sebagai presiden pertama.

Sultan terakhir Ottoman melarikan diri, menandai berakhirnya era monarki yang telah berkuasa selama berabad-abad.

Reformasi Sekularisasi dan Westernisasi

Sebagai presiden, Ataturk meluncurkan reformasi radikal:

Baca Juga: Bolehkah Presiden Suatu Negara Menculik Presiden Negara Lain? Ini Penjelasan Hukum Internasional

Ia juga mendorong industrialisasi dan modernisasi ekonomi. Kebijakan tersebut mempercepat westernisasi Turki, tetapi sekaligus mengurangi peran Islam dalam kehidupan publik.

Meski Turki secara formal menganut sistem demokrasi, Ataturk kerap membungkam oposisi dengan pendekatan otoriter demi menjaga stabilitas dan arah reformasi.

Akhir Hayat dan Warisan

Pada 10 November 1938, Mustafa Kemal Ataturk wafat di Istana Dolmabahce, Istanbul.

Ia tidak memiliki keturunan. Kepemimpinannya diteruskan oleh Ismet Inonu, yang melanjutkan agenda sekularisasi dan modernisasi.

Hingga kini, warisan Ataturk tetap menjadi fondasi identitas Turki modern.

Ia dikenang sebagai arsitek negara sekuler, namun perannya dalam mengakhiri Kekaisaran Ottoman dan kebijakan kerasnya terus menjadi bahan perdebatan sejarah.

Tags:
Perang Dunia IMuslimmonarki Islampresiden pertama Turki Kekaisaran OttomanBapak Bangsa TurkiRepublik Turki modernMustafa Kemal Ataturk

Insan Sujadi

Reporter

Insan Sujadi

Editor